Aku meminta kamu, membaca tulisanku kali ini sambil mendengarkan lagu Float – Sementara.

Foto: weheartit

Foto: weheartit

Mungkin tulisan ini tidak akan pernah pernah kamu baca, karena seingatku kamu sedang marah.

Namun percayalah, itu jauh dari cukup untuk membuat aku menyerah.

 

Seingat aku, cinta kita ini besar. Lebih tinggi dari selasar. Kita pernah saling melupakan, masing-masing mencoba jalan yang lain, dan berakhir tersasar. Kita, akhirnya saling mengingatkan, mengikuti setitik demi setitik cahaya hati yang menyerupai menara suar.

Seingat aku, sayang kita ini agung. Lebih indah dari lembayung. Kita pernah saling menghilangkan, masing-masing mencari lautan baru untuk dilarung, berakhir terkatung-katung. Kita, akhirnya saling menyelamatkan dari gelap dan dalamnya palung.

Seingat aku, rindu kita ini suci. Lebih murni dari embun pagi. Kita pernah saling membuat luka, masing-masing mencari penawar untuk obati. Kita, akhirnya saling memperjuangkan kembali, selangkah demi selangkah lewati panasnya yang melebihi Kalahari.

Seingat aku, kasih kita ini kuat. Lebih luar biasa dari Angkor Wat. Kita pernah saling meninggalkan, masing-masing mengikuti cahaya yang salah kemudian tersesat. Kita, akhirnya saling menemukan, membebaskan diri dari mereka yang hanya sesaat.

 

Tentang kita, memang selalu sedahsyat itu.

 

Kita pernah merajut mimpi-mimpi itu. Mimpi yang dulu pernah sama-sama kita amini, yang bodohnya aku hancurkan sendiri. Namun kini kesempatan itu muncul lagi. Yang aku lakukan pertama kali, adalah mengingat sedigdaya apa cinta ini.

Aku tidak pernah menginginkan asa yang hebat itu dirusak kerikil kecil prasangka, dihancurkan duri remeh dusta, dan digoyahkan sembilu tajam angkara. Bahkan butuh lebih dari maut untuk memisahkan kita.

Percayalah, hati, lebih dari ini pernah kita lalui. Jangan henti di sini.

Kita lebih tangguh dari ini. Ayolah. Aku tahu benar akan hal itu.

tumblr_m7wv1c4v251qjt4k8o2_500

Sayang, badai ini akan terus datang. Yang harus kita lakukan bukanlah menunggu badai reda, tapi genggamlah tanganku, mari sama-sama menari lewati hujan.

 

Untuk M,

dengan cinta.

Processed with VSCOcam with se3 preset

Petir memantak dari kepala merasuk hati seraya aku mengetahui kamu, di sana, tersakiti.

Topan badai menerpa arteri mengisi denyut nadi, menyadari kamu yang ada di luar jangkauanku, bersedih.

Rasanya soda api membasuh luka-luka ketika aku tahu kamu, yang tak tersentuh, sudah pergi.

Bahkan ketika kamu, yang kini bersamanya, bahagia, tetap saja terasa seperti hujan belati menghunus pori-pori hati.

 

Di sini sekarang aku coba bertahan, meski sambil menyeka luka yang harus kutekan.

Darahnya tidak berhenti mengalir, sakitnya tidak kunjung mangkir.

Lalu aku tanyakan pada diri sendiri, mengapa bisa sampai sejauh ini?

Aku terlalu ingin membahagiakanmu, sehingga tak rela kamu bahagia dengan selain aku.

 

Setiap sukamu dengannya, adalah bahagiaku yang terebut.

Setiap tawamu dengannya, setiap bagian jiwaku terenggut.

Setiap kudengar “Ini takdirmu dengannya,” kepasrahanku enggan manut.

Setiap terbayang klise tentang kamu, aku rela perjuangkanmu hingga nyawa dicabut.

 

Bertahan, terus berjalan, menuju kamu yang hati ini putuskan menjadi pilihan.

Meski compang-camping, terluka, setidaknya itu sebuah tanda bahwa aku selalu ada di sana, bahkan ketika kamu tak membutuhkan.

Dahaga yang mengemarau ini, cuma kamu yang bisa menyembuhkan.

Dan alasan mengapa aku bertahan sampai compang-camping, adalah demi kamu yang menjadi kesayangan.

 

 

 

Sumber foto

Gambar: KodalineVEVO

Gambar: KodalineVEVO

*membaca tulisan ini sambil mendengar lagu di bawah menggunakan earphone akan membuatmu lebih larut, mulailah membaca ketika penyanyi mulai bernyanyi

 

Mungkin inginku terlalu sederhana.

Aku hanya ingin mendengar kamu yang mengetuk di depan pintu.

Aku hanya ingin sekali lagi melihat wajahmu, meski hanya dari balik jendela.

Aku cuma mau kamu, sosok yang nyata ketika aku membuka pintu.

Aku hanya ingin di depan tungku perapian, bersamamu ketika dingin menerpa.

 

Bisa saja mauku terlalu sempurna.

Menjadi orang yang kaupilih di antara sempurnanya sosok-sosok yang ada.

Menjadi orang yang kaupilih untuk kauambil hatinya, kemudian kaujaga.

Menjadi makhluk yang kaumau, untuk berbagi hidup selamanya.

Menjadi orang yang kaupilih dan menjadi orang paling beruntung di dunia.

 

Namun kenyataan terlalu berbeda.

Kamu mengisyaratkan ‘selamat tinggal’ terlalu dini.

Ada sedikit mati kurasakan di sini.

Hatiku sudah terlanjur kamu bawa pergi.

Semuanya sebelum aku berhasil ungkapkan aku ingin memiliki.

 

Dan kini, semuanya sudah terlalu jelas.

Ternyata aku hanya seorang aneh yang merindu pelangi senja.

Seonggok tak sempurna yang mendamba dewi fortuna.

Setitik hitam yang inginkan kilau cahaya.

Seretak gersang yang haus air surga.

 

Sadar diri. Mungkin aku harus pergi.

 

*untuk menyempurnakan teater impian yang terbangun dalam benak, kusajikan video ini

**sedikit pesan, jangan sekali-sekali dengarkan lagu ini sambil memejam

Terinspirasi lagu Kodaline – All I Want

Gif: Tumblr (dreaming-when-lights-are-gone)

Gif: Tumblr (dreaming-when-lights-are-gone)

Ini tentang cerita cinta yang biasa saja. Tentang seorang pria yang berjalan di sebuah trotoar basah. Air hujan kala itu menyamarkan genang di matanya.

Tidak terjatuh. Air itu menggantung di pelupuk. Seperti rasa sesal yang tertumpuk. Bintik air mulai membasahi kemeja birunya. Ujung dasinya ia gulung kemudian dimasukkannya ke kantung kemeja, seperti enggan membuka dasi itu sama sekali. Tak ingin kebasahan, tapi melindunginya pun setengah hati.

Ada yang istimewa dengan dasi hitam itu.

Seolah tak takut pada rintik hujan, pria itu sama sekali tak mempercepat langkah kakinya. Tak ada kenaikan volume suara dari pantofel yang beradu dengan trotoar. Sesekali ia menengok ke kiri. Toko dan kedai satu persatu ia lewati.

Kali ini dia meluruskan tangannya ke depan, hanya untuk menyingsingkan lengan kemejanya, lalu membengkokkan sikunya hingga pergelangan tangan mendekati dada. Jarum jam di jam tangan hitamnya menunjukkan pukul 5.47 sore.

Sudah dua blok pria itu berjalan. Bahunya sudah membentur bahu orang lain tiga kali, hampir bertabrakan melawan lalu-lalangnya orang.

Pria itu memperlambat langkahnya, menengadah ke langit. Namun kini tak ada lagi titik air menjatuhi wajahnya. Hujan sudah reda. Ia bersandar di dinding sebuah toko roti. Seperti banyak yang dipikirkan, dahinya mengerut. Bola matanya menatap ke arah sudut kiri kelopaknya.

Tangannya mengepal. Ia memukul tembok. Kesal. Sekaligus terkejut. Ada sesosok pria terduduk satu setengah meter di kiri pria itu. Seorang pria lainnya. Sesosok pria tak berumah.

Gelandangan itu memegang sepotong kardus bertuliskan “uang, atau sebuah senyuman”.

Foto: Tumblr (thatfuckedupglory)

Foto: Tumblr (thatfuckedupglory)

Mata sang pria memincing. Namun kemudian ia tersenyum. Berjalan perlahan mendekati si gelandangan, merogoh kantung celana bahannya, kemudian membungkuk. Diberikannya beberapa keping koin kembalian membeli kopi tadi sepulangnya bekerja. Pria itu tersenyum sekali lagi.

Gelandangan itu bertanya, “Hendak ke mana, Nak?”

“Entahlah. Aku pun tak tahu.”

“Mengapa berjalan jika tak tahu tujuan?”

“Aku ingin bertemu seseorang.”

Gelandangan itu menatap wajah sang pria lebih dalam dari sebelumnya, sebelum kemudian mengangguk perlahan mengusap janggut putihnya yang lebat. “Mengapa kamu memberikan semuanya?”

“Aku hanya memberikanmu koin,” jawab sang pria sedikit terheran, “bahkan ini masih ada sisa koin di sakuku.”

“Bukan. Aku hanya meminta uang, atau sebuah senyuman.”

“Ah, iya. Kalau bisa memberi semua, mengapa harus salah satu?”

Gelandangan itu tersenyum. “Kejarlah, Nak. Jangan setengah-setengah.”

Sang pria terdiam. Matanya terbuka. Ada degupan kencang di dadanya seraya ia berdiri kembali. Seketika ia melanjutkan langkahnya. Mempercepatnya. Bukan. Berlari!

Bagian bawah kemejanya mulai mengering, hanya tinggal bagian bahunya saja yang basah. Pria itu berhenti di satu persimpangan. Tepat di depan sebuah kios majalah. Sang pria menatap ke arah tiang lampu lalu lintas. Bibirnya terbuka membaca perlahan tulisan dari spidol merah di tiang itu.

Jio.

Ia berbalik dan menoleh ke arah kios majalah. Sontak pikiran pria itu terlempar jauh ke belakang. Tergambar sosok perempuan berambut panjang, tak terlalu lurus, sedikit ikal. Hidungnya tak mancung, malah cenderung besar. Pipinya pun mengingatkan pria itu tentang bakpao yang sering dijadikannya bahan ejekan untuk sang perempuan. Pria itu memanggilnya Jio.

Pria itu ingat betul perempuan yang ada di bayangannya sekarang sering mengeluhkan dirinya gendut. Perempuan yang sering merasa gendut itu telah membuat sang pria kurus karena sering memikirkannya.

24 menit sudah sang pria berdiri di persimpangan jalan itu. Selama itu, ia menancapkan tatapan ke kios majalah. Menunggu. Pria itu sesekali melihat jam tangannya. Kali ini jam tangannya menunjukkan pukul 6.57 malam.

“Harusnya sudah datang,” gumamnya.

Hingga Jio akhirnya tiba di kios majalah. Berbicara kepada penjaganya, menyerahkan sejumlah uang, dan mengambil majalah bergambar rumah di cover-nya.

Degup di dada sang pria semakin kencang. Ada lagi informasi kecil yang membangkitkan memori. Jio suka hal berbau interior. Pria itu mendadak ingat pernah membelikan Jio kursi unik berbentuk segitiga berwarna hijau sebagai hadiah ulang tahunnya.

Dengan keberanian terbesar yang selama ini ia kumpulkan, pria itu melangkah menghampiri Jio. Berhenti dan berdiri tetap di hadapannya. Jio terkejut, kemudian melihat dari kaki hingga kepala pria itu.

Jio, aku cuma ingin meminta maaf.”

“Nggak ada lagi …”

Belum selesai Jio bicara, pria itu menyambarnya. “Seumur hidupku aku nggak bisa hidup seperti ini. Hidup yang tanpa kamu di dalamnya.”

Jio terhenyak. Pipinya basah. “Aku yang harusnya minta maaf.”

Jio melangkah ke arah kanan pria itu. Cepat.

Belum sempat pria itu mengejar, Jio sudah disambut seorang pria dengan raut wajah agak kebingungan. Bahasa bibirnya menunjukkan, “Kamu kenapa?” bertanya kepada Jio, kemudian melayangkan sebuah pelukan di pundak.

Pria itu bergeming. Matanya menatap nanar. Bertambah lagi perbendaharaan sekuen pahit di hatinya. Yang bisa ia lakukan hanyalah merogoh sisa koin di kantung celananya, kemudian memandanginya. “Mengapa waktu itu tak kuberikan sepenuhnya?”

Pria itu menyesal karena tak selalu ada. Ia menyesal karena tak memberikan semua yang dipunya. Ia longgarkan simpul dasi hitam di kerah kemejanya dengan tangan kiri. Menggoyang-goyangkannya sedikit, kemudian melepasnya. Tak membuangnya, tapi menggenggamnya. Seperti hatinya masih ingin menggenggam, tapi harus melepas.

Kini, dahinya hanya bisa mengerut, menahan air mata untuk tak jatuh. Hanya tak ingin kelihatan cengeng.

Namun ada yang tak biasa dari alis tebalnya yang mengernyit. Sebuah petir menghunjam denyut jantungnya berupa rasa sakit. Sakit luar biasa, yang semuanya bermuara pada satu frasa. Rasa sesal.

Ini tentang cerita cinta yang biasa saja. Tentang seorang pria yang mencinta dengan biasa. Sebiasa ia bernapas. Saking terbiasa, hingga akhirnya sang pria tak bisa hidup tanpanya.

beach-boy-dress-girl-hands-hold-Favim.com-55110

Aku seorang perencana. Itu tugas dan naluriku. Kamu, navigator andal paling manis yang siaga menyadarkan bahwa semesta tak melulu sesuai dugaan.

Aku menganggap diri ‘the man with the plan’, terlalu pemikir. Tapi kamu selalu mengingatkanku semuanya lebih indah mengalir.

Menunggu yang tidak pasti itu melelahkan. Tapi menghadapi dunia yang tidak menentu, denganmu aku ingin terkejut bersama.

Aku terlalu takut kehilangan. Namun kamu meyakinkan, bahwa yang bersama kita saat ini adalah yang dianugerahkan.

Aku bersikeras masa depan bisa direncanakan. Kamu mengingatkanku takdir tak bisa dielakkan.

Kamu bilang, waktu paling berharga adalah saat ini. Maka bagiku, kamulah yang paling berharga, karena masih bersamaku sampai kini.

Katamu, masa depan tak pernah pasti. Tapi yang pasti aku hanya ingin memastikanmu menjadi masa depanku. Itu pasti.

Terima kasih sudah mengajarkanku bahwa mencinta itu berarti juga mengingatkan. Tetaplah saling menggenggam tangan. Dan sekali lagi, mari kita terkejut berdua, menghadapi dunia yang tidak menentu akhirnya… sampai kita renta.

107027668

sumber foto

sumber foto

tumblr_lcd4myMlhg1qc6yb1o1_500_large

Kamu berputar-putar di situ saja. Dari sebuah padang ilalang, ke gurun yang begitu gersang. Tak puas, kamu berlari lagi, mencari lagi. Meninggalkan yang belum selesai. Akhirnya hanya mendapati diri kamu sendiri di tepian jurang.

Mencari yang lebih baik.

Sebuah kalimat yang aku percaya tidak akan ada ujungnya. Mencari yang lebih baik hanya akan membawamu ke perjalanan tiada akhir. Perjalanan penuh dengan ketidakpuasan. Rasa haus yang menyiksakan.

Aku paham, semua orang ingin sesuatu yang lebih baik. Akan tetapi, ada kalanya kamu harus berhenti, beristirahat, lalu berpikir, “Apakah aku sudah cukup jauh mencari? Atau bahkan terlalu jauh?”

Mencari yang lebih baik, berarti meninggalkan yang lebih buruk. Atau setidaknya, yang kamu anggap lebih buruk. Aku hanya ingin menyadarkan. Orang-orang yang kamu anggap tidak cukup baik dan kamu tinggalkan demi yang lebih baik itu yang justru lebih pantas mendapatkan yang lebih baik. Dan itu pasti.

Karena orang-orang yang sembarang meninggalkan semata demi yang lebih baik, adalah orang yang tidak cukup baik.

Rasa lelah kadang terlambat hadir. Ia kadang muncul ketika semuanya sudah terlalu jauh dan terlalu penat karena tak kunjung mendapatkan yang lebih baik. Karena yang lebih baik itu sebenarnya tidak ada. Itu hanyalah sosok semu yang kamu ada-ada. Sosok nyatanya hanyalah dia yang dengan segala ke-kurang-baik-kannya, selalu ada untukmu. Tapi sayangnya kamu lewatkan itu.

Di saat itu, kamu harus menengok ke dalam. Dan tanyakan pada diri kamu sendiri, “Apa kamu sudah cukup baik untuk orang yang kamu sebut lebih baik?”

Jadi, ada baiknya mempersiapkan diri sebaik mungkin untuk layak jadi tempat singgah selamanya… bagi dia yang terbaik.

Semoga masing-masing dari kita mendapatkan yang terbaik, setidaknya dari sudut pandang mata hati kita sendiri. Dan semoga kita tepat waktu untuk merasa lelah mencari, dan mengistirahatkan hati di jiwa orang yang tepat, yang tulus dalam mengasihi.

sumber foto

Terima kasih sudah menyajikan cinta yang begitu nyaman.

falling-girl-photography-water-Favim.com-129400

Terima kasih sudah manangkapku yang terjatuh. Membangunkanku lagi. Kemudian menjatuhkan hati. Dan mendaratkannya di bantalan kasih seindah dunia peri.

Terima kasih sudah menyelamatkan rasa yang hampir tenggelam, dengan hadir dalam hidupku walau penuh lebam.

tumblr_lwwone2BHy1qzleu4o1_1280

Terima kasih sudah menyeka luka, sehingga senyum itu muncul lagi terlihat di air muka.

Terima kasih sudah menjadi penawar harap yang dulu mulai memudar.

Terima kasih karena membiarkan aku belajar, meski aku tak pernah merasa cukup.

550px-I-Will-Never-If-You-Never

Aku tak pernah merasa cukup dengan kasih darimu yang senyaman ibu.

Aku selalu merasa kurang akan tempat untuk membuktikan diri, bahwa aku pria sejati. Dan kamu hadir, memberikan kesempatan itu.

Aku tak pernah puas berusaha segenap jiwa membahagiakan kamu perajut asa.

Aku bisa selalu lapar untuk kamu ajari bagaimana mencinta dengan setulus hati.

tumblr_lzqgntSStP1r90rkno1_500_large

Sebuah impian bisa terbangun di suatu pagi dengan parasmu di sampingku, setelah berebut selimut di malam penuh kabut.

Kelak aku hanya ingin terjaga karena sinar matahari yang masuk seraya kamu bukakan jendela, dan melayangkan sebuah kecupan di mata.

Aku selalu memimpikan denting adukan sendok di secangkir teh hangat, lengkap dengan senyum manismu yang kunantikan dengan sangat.

Kepada kamu yang akan selalu menjadi alasanku untuk pulang.

Sumber foto

Sumber foto

Sumber foto

Sumber foto