Archive

Monthly Archives: September 2011

“Hati kamu dingin. Aku taburi serpihan rindu. Biarkan sepi jilati heningnya. Hingga relung pelukmu menghangat.”

Aku terbangun lagi. Memikirkan kamu lagi. Aku melakukan kesalahan lagi. Aku nyalakan komputer, masih mencoba menulis tentang kamu. Aku buka media player, aku double-click lagu John Mayer. Ya, salah. Sebab sejak mendengarkan lagu-lagunya, aku jadi sering tertukar antara mimpi dan kenyataan.

Buktinya, aku masih mengejar cintamu. Aku tersesat. Aku di antara mimpi dan kenyataan. Di sana ada sebuah kereta es krim dengan warna mencolok. Aku yang kehausan, dahaga karena teriknya rasa kehilangan ini, menghampirinya. Aku celingukan mencari siapa penjaga kereta es krim itu. Tak menemukan siapapun.

Aku sajikan saja es krimku sendiri. Di sana ada tulisan kecil terkesan seperti sebuah memo, “Es krim rasa kamu.”

Aku tak mengerti. Apakah maksudnya rasa seperti apa yang diinginkan atau seperti apa? Belum selesai aku berdebat dengan pikiranku, tangan ini -dibantu dahaga tak berkesudahan- bergerak sendirinya mengambil sendok es krim kemudian mengambil beberapa scoop kecil es krim. Aku ingat, aku ambil 9 scoop es krim. Ya, aku haus, tapi tak biasanya aku serakus itu. Aku ambil es krimnya sesuai angka kesukaanmu, 9. Itu saja.

Aku duduk di sebuah kursi panjang di taman yang dijatuhi daun -yang digugurkan pohon kepanasan-. Hari itu terik. Hanya bertemankan sepi, aku membagi es krim “rasa kamu” milikku. Aku memang sedang dahaga, tapi sepertinya malah sepi yang terlihat lebih kehausan. Dia menjilati es krimku seperti tak ada es krim lagi di dunia ini.

Aku tak mau kalah, dahagaku memacuku mengalahkan sepi. Dan ketika es krim “rasa kamu” habis dalam jilatan terakhir, yang tersisa hanya aku dan sepi.

ditulis di sebuah malam yang terik

Valentine, sebuah hari di Februari yang katanya penuh kasih sayang, penuh cinta. Namun katanya lagi, cinta tak perlu dirayakan hanya di sebuah hari. Aku ingin mengenang cinta hari ini, bukan hari di Februari. Belajar cinta dari seorang anak.

Berbicara tentang cinta, orang dewasa tak akan pernah bisa mendeskripsikannya karena mereka terlalu takut dan egois.

‘Cinta adalah memberi dan menerima, blablabla…,’ itulah kata mereka. Sangat terlihat mereka terlalu berhati-hati ketika berbicara tentang cinta, dan kalian tahu apa yang didapat? Ketika kamu terlalu berhati-hati, kamu hanya menghasilkan yang “bukan diri sendiri”.

Anak-anak adalah manusia yang belum sempurna, dan memang sebagai manusia tidak akan menjadi sempurna. Namun justru karena ketidaksempurnaan itu mereka berani bertanya, mencoba, bicara tanpa takut salah, kotor, ataupun sakit. Memang terkesan ceroboh, tapi lebih banyak pelajaran yang bisa diambil dan “efek jera”-nya memang lebih terasa.

Berbeda dengan orang dewasa, anak-anak tak ahli dalam hal menyerah. Mereka terlalu penasaran, terlalu ingin tahu. Anak-anak pasti melakukan apapun untuk tahu, tak peduli itu begitu berisiko buat mereka, tak peduli itu akan sangat menyakitkan dan mengecewakan, yang penting mereka jadi tahu.

Biasanya anak-anak yang belajar dari orang dewasa, tapi untuk kali ini aku rasa orang dewasalah yang mesti belajar dari anak-anak. Deskripsi orang dewasa tentang cinta sudah tak murni, karena sudah bercampur dengan refleksi ego sendiri. Lain halnya dengan anak-anak, mereka mendeskripsikan tentang cinta tanpa ada penambahan-penambahan maksud dari egonya masing-masing. Mendeskripsikan cinta dengan tulus.

Aku pernah mendengar beberapa anak berceloteh tentang cinta, aku pikirkan, aku renungkan, bahkan aku bayangkan menjadi seorang anak berbicara.

“Cinta adalah ketika aku mengenakan parfum kakakku ketika pergi sekolah, dia pun mengenakan parfum kakaknya, sepertinya, aku mencium wanginya, dia mencium wangiku. Cinta adalah ketika seseorang yang aku sukai menyukai baju yang aku kenakan, dan akupun mengenakannya setiap hari. Cinta adalah ketika aku rela memberikan beberapa kentang goreng dari bekalku untuknya tanpa berharap dia memberikan sedikit telur dadarnya untukku. Cinta adalah ketika aku menjahilinya bahkan sampai menangis hanya untuk mendapatkan sedikit perhatiannya. Cinta adalah yang membuat aku tersenyum walau aku sedang lelah setelah pelajaran olahraga,” ucapnya sepulang sekolah seraya mengelap keringat di dahinya.

“Cinta adalah ketika aku sedang ragu untuk tampil dalam lomba pidato, dia memberikan lambaian tangan dan senyuman untuk menyemangatiku. Cinta adalah ketika aku berharap dia yang menenangkanku ketika aku bertengkar dengan temanku. Cinta adalah ketika bulu mataku naik turun melihatnya, dan aku merasakan serpihan bintang keluar dari mataku. Cinta adalah ketika aku celingak-celinguk saat dia gak masuk sekolah,” tuturnya sebelum tidur sambil memandangi langit-langit kamarnya.

“Cinta adalah ketika seseorang menyebut namaku dengan cara yang beda, sampai aku sadar bahwa namaku aman di bibirnya,” ujarnya padahal baru saja dia dimarahi ibunya karena tak mau makan. “Lagi gak nafsu,” bantahnya.

“Cinta adalah ketika ibu mencium keningku dan menaikkan selimut sampai ke dagu untuk mengantar aku ke alam mimpi. Cinta adalah ketika ayah menggendongku ke kamar tidur karena aku tertidur saat menonton TV. Cinta adalah ketika ibu melihat ayah yang lusuh dan bau sepulang kerja, tapi tetap menganggapnya pria paling tampan di dunia. Cinta adalah ketika ibu membuatkan kopi untuk ayah, dan menyicipnya hanya untuk memastikan rasanya sedap sebelum disajikan untuk ayah,” gumamnya sambil setengah sadar karena kantuk yang tak tertahankan.

“Cinta adalah walaupun ketika lelah bercumbu, tetap ingin bersama, dan membicarakan beberapa hal,” yang ini kata ibu dari seorang anak.

“Cinta adalah ketika ibu menunggu ayah pulang kerja sampai tertidur di sofa. Cinta adalah ketika ayah mencium kening ibu yang tertidur di sofa, dan menyelimutinya. Cinta adalah nenek yang mengucapkan ‘aku sayang kamu’ setiap hari kepada kakek, karena nenek tahu kakek itu pelupa. Cinta adalah ketika nenek sudah tidak bisa lagi membungkuk untuk mengecat kuku kakinya, kakek melakukannya untuk nenek, sampai kakek gak bisa lagi melakukannya. Cinta adalah ketika nenek menyimpan foto kakek walau kakek telah tiada. Cinta adalah ketika nenek tetap mendoakan kakek walau kakek gak akan ada lagi,” ocehnya sepulang berlibur di rumah nenek.

“Cinta adalah ketika nenek meninggal dengan tenang karena nenek yakin akan bertemu kakek di surga,” kata seorang anak tentang cinta.

credit: John

Lampu pada tulisan “Ruang Tunggu” itu mulai redup, satu-persatu sosok di dalamnya mulai melangkah keluar. Bukan meraih apa yang mereka tunggu-tunggu, melainkan melangkah keluar saja. Menyerah.

Aku tak kenal siapa mereka. Namun di bawah kerah kemeja sebelah kirinya tertulis “logika”. Beberapa sosok lainnya aku lupa jelasnya seperti apa, tetapi sepertinya mereka semua bersaudara. Kembar mungkin.

Di sini, di ruang ini, hanya aku yang tersisa. Sendiri. Aku sempat takut dan termakan bujuk rayu mereka yang pergi lebih dahulu. Aku bukan betah duduk di sini dan menunggu, hanya saja sesuatu yang aku tunggu lebih membuatku tak betah jika aku tinggalkan.

Duduk di ruangan sebesar ini sendiri, membuatku terlihat begitu rakus. Mengenyam semua waktu sendiri. Mendengarkan alunan detak detik melalui headset, tertegun dan tertunduk. Menunggu pintu yang berada beberapa langkah di sebelah kiriku terbuka dan sosok di baliknya berujar, “Berikutnya.”

Pada saat itulah aku akan bangkit dari tempat duduk ini, detak detik ini tak membuatku tuli karena aku mendengarkan melalui diri sendiri. Aku akan buka pintu itu dengan lembut, menyambut siluet dengan cahaya lebih terang di depannya sehingga sosoknya tak begitu jelas terlihat.

Aku begitu yakin dengan sosok itu. Benar saja, sosok itu kamu. Dan aku akan ceritakan bagaimana penunggu yang lain beranjak pergi, menyerah. Atau entah melenggang menunggu yang lain. Sebelumnya, akan kujabat tanganmu, kugenggam erat, kutatap matamu dalam-dalam.

“Perkenalkan, namaku hati.”