Archive

Monthly Archives: September 2011

Mau ke mana, kamu?

photo by Miruna Uzdris

Mau ke mana, kamu?

Sesekali aku melihat wajahmu, aku dekati, kucoba sentuh. Jari ini terbentur. Rinduku terhalang layar, dunia maya.

Sayup suaramu terdengar. Kucoba raba sumber suara yang juga menjadi sumber rinduku. Lagi, kali ini kangen terhalang speaker.

Kamu, masih setia menemaniku, meski hanya dari balik plastik bening dalam lipatan dompetku.

Aku masih setia bersamamu. Di atas garis masa ini. Kamu dalam wujud rengkaian huruf menjadi seuntai kata. Namamu, kamu.

Besok juga aku masih setia, mungkin dalam wujud lain. Melalui panjatan doa menjulang tinggi, kurasa bisa menghujam Tuhan.

Menyebut namamu, aku selalu berbisik. Bukan tak ingin terdengar, hanya memastikan namamu aman di bibirku.

Hari ini sangat panas. Panasnya tak seperti hatiku yang merah. Bagiku, itu sudah menjadi rambu bahwa cintaku berhenti di kamu.

Kamu yang tak pernah kembali. Jika selalu begitu, bagaimana jika aku saja yang kembali padamu, kamu?

Kelak ketika kamu mengandung anak dari suamimu yang bukan aku, mungkin rindu ini sudah melahirkan kangen.

Besok, kita kirim-kiriman doa lagi ya. Tapi jangan saling kasih tau.

Advertisements

Kamu, yang masih terperangkap dalam kotak itu, kotak kenangan. Kotak Pandora yang tak pernah ingin kamu buka, tetapi sudah bisa membuatmu tersesat dengan hanya membayangkannya saja. Sejenak aku pikir akulah orang yang tepat menyelamatkanmu dari sana. Namun siapa orang paling sulit untuk ditolong? Orang yang tak mau ditolong.

Entahlah, ini antara kamu yang tak mau kutolong, atau malah kamu meminta tolong pada kenanganmu dari aku. Rasanya seperti tarik-menarik. Aku tarik kamu ke depan, tapi sepertinya kenanganmu lebih keras menarikmu ke belakang. Kadang aku melonggarkan genggamanku hanya demi menjaga tali antara aku, kamu, dan kenanganmu tak putus. Aku tak mau mendapati kamu terjatuh ke pusara kehampaan, tanpa aku. Di sisi lain, aku tak ingin kamu lepas.

Besok, ketika aku terbangun lagi, aku selalu penasaran. Sampai kapan kamu mau tinggal di sana? Aku sudah mengulurkan tangan, tangan penuh luka karena memperjuangkanmu.

Kamu, selalu menjadi sosok yang ingin kukibarkan di hati. Kuperjuangkan bebas dari rindu, apalagi sepi. Aku rela pasang badan menghadapi gengsi.

Kurasa, wajahmu terbuat dari racikan hujan pada jendela beserta embunnya. Dan jika aku melihatnya dalam sebuah perjalanan, tak ada rasa yang bisa menggambarkan selain kata.

Kamu, kapanpun kamu melihatku tertidur, entah karena terlalu lelah memperjuangkanmu, atau terlalu bosan menunggumu, jangan bangunkan aku. Kamu, tolong bangunkan aku, hanya ketika kamu sudah beranjak dari kenangan itu.

Beberapa orang menikmati paginya bersama ceruk cangkir sepi berisi rindu yang masih hangat.

Beberapa lainnya masih enggan beranjak dari selimut sayang semu, hanya agar terhindar dari dinginnya sunyi.

Sebagian orang masih setia bermain, berlari, mungkin terjatuh dalam mimpi tentangnya. Enggan terjaga hanya karena terbayang kenyataan tak seindah itu.

Sejumlah orang bahkan terperangkap dalam kotak kenangan yang padahal tak pernah ia buka, hanya ia bayangkan dan ingat-ingat.

Kita. Sebuah kata yang (semoga) menjadi tujuan bagi aku dan kamu. Belum terwujud (semoga) hanya karena detik itu belum sampai pada putaran akhirnya mengemban tugas mempersatukan. Dalam doa, namamu selalu aku sematkan, (semoga) menjadi doa yang baik untuk kita, (semoga) kamupun begitu. Banyak doa yang sudah kuucap, sepertinya belum ada yang terkabul. Aku yakin (semoga) Tuhan bukan tak mengabulkan doaku. Ia hanya menyimpannya, hingga waktu yang tepat datang.

Ketika waktu itu sudah tiba, (semoga) Tuhan akan melepas semua doa yang kuucap, menghamburkannya pada semesta sebagai tanda ada pekerjaan yang harus semesta selesaikan. Dan aku, tak pernah ragu dengan cara kerja semesta.

Biarkan aku berdoa lagi, sayang. (semoga) Kamu pasti bersedia mengamini juga, kan?

Semoga sepi yang hadir menelusup dalam setiap malam, hanyalah cara Tuhan mengingatkan aku rindu akan kamu rasanya tak tertahankan.

Semoga kita hanya dua orang sendiri yang pernah saling memimpikan, hanya saja belum ada keberanian untuk menyatakan.

Semoga kita hanya dua hamba yang saling mengirim doa, mengamini bersama, yang ternyata doanya memohon untuk saling melengkapi.

Semoga kita hanya sepasang insan yang saling mau, hanya saja menunggu waktu yang tepat untuk bersama.

Aku tak tau. Seakan memori ini terlalu berharga untuk diletakkan begitu saja, dalam kotak kenangan. Menjadi kotak Pandora yang tak boleh dibuka, tapi pasti senantiasa rasa penasaran terus menghantui dan ingin kubuka setiap saat.

Kata orang, ada garis tipis, sangat tipis, antara tulus dan bodoh. Entahlah, aku mungkin berada di tengahnya. Di garis sangat tipis, hanya saja aku tak tau mana yang di bawah, tulus atau bodoh. Sehingga jika pada akhirnya gravitasi cintamu membuat tempat kuberpijak tak mampu lagi menahan, aku akan jatuh ke lubang ketulusan yang gelap tak berujung, atau kubangan kebodohan yang menggelitik nadi dan memutus semua logika.

Aku hanya mau kamu. Salah? Tolong beri aku alasan. Aku tak tahan lagi diterjang jarum detik tanpamu. Jarum yang bahkan malaikat pun tak bisa hentikan. Tanpamu terlalu sakit rasanya.

Aku sudah mencintaimu tanpa hati. Hampir seluruhnya kau bawa pergi, dan sisanya aku makan sendiri.
Sakit, tak apa kau menyakitiku. Seperti apa yang pernah aku katakan. Tak apa aku disakiti, sebagaimanapun. Daripada aku menyakiti, karena menyakiti rasanya lebih menyakitkan, melihat orang yang dikasihi kesakitan. Biarkan aku duduk di persimpangan jalan sepi ini.
Tak ada petunjuk arah ke mana kamu pergi. Aku hanya ingin kembali.