Berdiri di Atas Jarak

Foto: guardian

Kata kamu, jarak tak ada artinya bagi cinta. Iya, sesaat setelah aku merasakan rindu. Jarak tak ada apa-apanya dibanding rindu yang terbangun di antaranya.

Rindu itu dimulai sedetik sejak lambaian tanganku ke arah pesawat itu.

Rindu itu dimulai sekejap dari saat pesan “hati-hati” yang aku kirimkan.

Aku tidak pernah mengerti dengan rindu. Sebuah paradoks yang kompleks. Terlalu rumit untuk cinta yang sederhana ini. Jarak membuatku rindu padamu. Namun bertemu denganmu justru membuatku semakin rindu.

Jarak selalu memperparah malam-malamku. Prasangka itu sulit, sayang. Menahannya semalaman suntuk hanya meyakinkan diri tidaklah mudah. Percaya, tapi semuanya tidak semudah itu, karena bukan akulah yang sesungguhnya kamu tunggu.

Aku tak sanggup jika harus menahan jarak sekaligus menahan perasaan. Apalagi dengan jarak yang terbentang antara kita saat ini. Jarak yang sepertinya tak sanggup aku tempuh dengan berjuta kayuh sekalipun.

Jarak antara prasangka, menebak-nebak jika kamu memikirkan aku seperti aku memikirkan kamu. Tanpa ada dia.

Jarak antara tiga hati. Aku padamu. Kamu padanya.

Aku sedang menunggu lelah meremukkan tapal kaki ini hingga tak lagi berdiri di antara jarak ini. Entah kapan.

Memang benar katamu, jarak tak ada artinya bagi cinta. Dan kamu mungkin tak pernah menghadirkan cinta.

9 comments
  1. hana muthia said:

    LDR bung

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: