Aku Menunggu dalam Bayang-Bayang

Foto: Ulf Buschmann

Hitam. Kelam. Legam. Lebam. Masa lalu bersamamu begitu hitam. Rasanya begitu kelam. Tak terlihat karena legam. Namun begitu terasa hingga membuat lebam.

Kamu seperti bayang-bayang. Terus mengikuti ke mana langkahku pergi. Rasanya ingin pergi, tetapi langkah bayangmu lebih cepat mengikuti.

Kamu sudah jauh berada di depan, akan tetapi bayangnya begitu dekat di belakang. Apa yang bisa aku lakukan? Hanya mengira-ngira, apakah bayangan itu akan memeluk dari belakang, atau berencana menusukku dengan belati dendamnya.

Akhirnya, aku memutuskan untuk diam. Karena semakin aku berlari, semakin lelah aku mencari. Rasanya, sia-sia saja aku melangkah, bayangmu begitu lekat. Terpaksa aku kembali ke masa laluku yang aram, hanyak agar bayanganmu yang terus mengganggu akhirnya karam.

Sayangnya, seiring dengan terbitnya mentari di pelupuk hati, bayang itu datang lagi.

8 comments
  1. bang sedih bang yang ini. masa lalu seperti rentenir ya bang, terus mengikuti dan menagih sampai kita lelah.
    btw mungkin bisa baca blog gw bang, minta saran dan kritik untuk lebih baik ke depannya😀

  2. firman said:

    keren kak.. aku request dong catatan tentang cinta segitiga, dan seandainya kita menjadi yang ketiga.

  3. benx08 said:

    mantep nih kata-katanya
    kapan ya bisa nulis kayak gini :matabelo

  4. Ivon said:

    Puisix nyentuh banget..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: