Senyum Getir Malam Itu

Foto: silentivy

Kamu tidak tahu apa-apa tentang degup tak berirama ini. Degup jantung yang seraya seperti akan meledak ketika kamu memanggil namaku pertama kalinya dengan benar. Ya, pertama kalinya kamu memanggil namaku tanpa salah eja, posisi hurufnya tersusun dengan rapi. Tak seperti posisi jantung ini yang sepertinya sudah berada di luar.

Aku, dengan lebih sigap dari seekor ibu tupai yang anaknya sedang diancam anjing, melompat mendekatimu, menanyakan ada apa. Kekuatan langit apa yang bisa membuatmu melakukan hal semacam tadi, memanggilku, dengan benar pula. Aku selalu penasaran dengan segala hal tentang kamu -meski aku sudah tahu dengan mengandalkan segala kemampuan ‘detektifku’-, akan tetapi aku tetap saja kehausan kabar tentang kamu. Kamu mengajak aku ke suatu tempat, yang katamu menjadi tempat favorit ketika ingin mengobrol hal serius dan sedikit berbau rahasia.

Tentu dalam sekejap aku merasa lebih spesial dari sepotong martabak telur dengan komposisi dua telur. Aku bertanya-tanya apa yang sebenarnya akan kamu beritahukan. Jantungku sepertinya sudah tidak berada di tempat, tetapi aku masih bisa merasakan detaknya yang kencang. Tebakan demi tebakan melintasi pikiranku. Sekuen demi sekuen yang mungkin terjadi lewat begitu saja tanpa permisi.

Dan sampai akhirnya kamu dan aku duduk berdua, saling tatap, seperti yang selama ini aku impikan, aku bayangkan namun tak terwujudkan. Selama ini memang seperti ini keadaan yang aku rencanakan untuk mengungkap cinta kepadamu. Lengkap dengan lampu kekuningan yang agak redup ini. Namun aku masih penasaran apa yang ingin kamu katakan, apakah seperti apa yang selama ini aku rasakan.

Aku menunggu beberapa patah kata yang akan terucap dari mulut mungilmu itu, tentu masih sambil menahan diri untuk tidak pingsan. Kamu terlihat begitu gugup, kemudian menarik napas panjang. Dan akhirnya kamu angkat bicara.

“Aku suka temanmu. Bagaimana aku supaya bisa dekat dengannya? Bantu aku.”

Aku tersenyum getir.

Selanjutnya, aku habiskan hari itu dengan berjalan sendirian.

Tak ada malam yang lebih menyesakkan dari malam-malam yang aku lalui setelah hari itu.

12 comments
  1. Udah antusias yg baca, ternyata ujung-ujungnya nyesek……. haha

  2. AjiGuN said:

    hehe..gubrak

  3. trisna said:

    BANGKE YA! X)))

  4. Annisa said:

    awalnya diangkat2 ternyata akhirnya~~~~~~~~

  5. Fadhillah Luluk said:

    iya, pernah dan masih.

  6. Ghulam said:

    Hahahahhahhhahhaha!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: