Mengisahkan Sebuah Tunggu

Foto: spesial

Ting. Ting. Ting.

Putaran sendok searah jarum jam mengitari diameter cangkir, sesekali beradu. Mengingatkan aku pada sesuatu yang kini sudah larut. Semua rasa ini, sayang, rindu, marah, benci, semuanya teraduk setelah kamu pergi.

Ketika senja menjelang, aku sering melangkahkan kaki, melewati jalan-jalan yang biasa kita lalui. Kadang sejenak aku tertahan, terhenti, begitu terasa kenangan yang tak terbantahkan, tentang kamu yang tiada lagi.

Kepalaku sering tertunduk mengamati. Mata ini begitu penasaran ke mana kaki ini akan pergi. Persimpangan pertama sudah terlewati. Itu tempat kita pertama perkenalkan diri. Sudah, itu bisa kubahas nanti.

Persimpangan kedua terlewatkan. Di sana kita biasa berbisik pelan. Mengamati setiap orang di sisi jalan. Gelak tawa meledak tak tertahan.

Aku tak tahan melewatkan persimpangan yang ketiga. Tempat itu kerap kita jadikan merajut asa. Yang katanya, hidup selalu bersama. Ya, hampir selamanya.

Langkah kaki akhirnya terhenti di depan sebuah kedai kopi. Aku masuk tergoda wangi. “Di sini,” gumam sang hati.

Aku memutuskan menunggumu di sini bertemankan kopi, secarik kertas, dan pena, seraya menuliskan segurat kisah yang hampir sempurna. Tentang kita.

Tanpa kamu memesannya, aku setia menyajikan ceruk cangkir sepi berisi rindu yang masih hangat.

15 comments
  1. Arhin said:

    “Tanpa kamu memesannya, aku setia menyajikan ceruk cangkir sepi berisi rindu yang masih hangat.”

    Sukaaaaa..🙂

  2. miftakhul jannah said:

    aaww, kata-katanya pas bgt sama perasaanku bang.
    :*

  3. grandadb said:

    Hmmmmmm :’ galau bgt :’)

  4. riezalinda said:

    Semua kata-kata nya pas! Aku suka banget!! Apalagi yg ini -> “Tanpa kamu memesannya, aku setia menyajikan ceruk cangkir sepi berisi rindu yang masih hangat.”
    By the way, semua tulisan kamu semuanya bagus bang! Keep writing ya bang oka! Semangat!!🙂

  5. heriajin said:

    Ini yang ditunggu siapa coba ? Bukan cowo kan ?

  6. GeeLoveGod^ ^ said:

    Aku memustuskan untuk menunggumu disini bertemankan secangkir kopi, secarik kertas, dan pena, mengguratkan kisah yang hampir sempurna. Tentang kita.

    Terimakasih, anda dan karya anda membuat saya kembali berani bersita cinta. Pedihnya menungggu pun terasa sewangi kopi.🙂

  7. Reblogged this on and commented:
    ..berisi rindu yang masih hangat😐

  8. laili said:

    sukaaaaaaaaaaaaaaaaa bgt

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: