Aku Berharap Lagi Rasa Itu Mati

Foto: Mark Ryan

Aku bersembunyi di balik sepi.

Tangisan berselimut dalam kesunyian.

Dan perasaan, tertutup agungnya pertemanan.

Setidaknya itu menurutmu.

Bagimu, pertemenan ini memang hanya pertemanan. Ya, aku tak bisa menyalahkan itu. Yang bisa aku lakukan hanyalah menyalahkan diri sendiri yang terus saja mengingkari hati, bahwa rasa ini bukan sesuatu yang berarti.

Semua kedekatan kita. Canda tawa saat berbicara tentang hal yang kamu suka. Semua senyum yang kureka, tak sepenuhnya nyata. Senyum itu tulus, hanya saja terlempar dengan getir. Layaknya rasa yang aku tahan, rasa yang terbalut dalam kalut.

Aku tak bisa menyampaikannya. Aku hanya tak ingin menghancurkan apa yang selama ini kita bangun. Dan pada akhirnya, aku tancapkan kail ragu, kalut, dan takut pada rasa ini, kemudian menggantungkannya di relung hati. Sambil berharap itu mati. Sendiri.

Semuanya berubah, ketika akhirnya aku sadar rasa itu semakin gagah. Membentur-benturkan dirinya ke dinding jiwa, membuatku hampir gila.

Aku hanya temannya!” pekikku.

Aku kembali berdiam di balik dinding pengecut. Dinding egois yang memisahkan rasa ini dari hati yang ingin diraihnya. Aku ikat erat-erat sayang yang sudah terlanjur pekat.

Rasa itu tak kunjung pergi, malah aku yang hampir mati. Aku tak sanggup lagi. Jika memang semuanya harus berakhir di sini, aku harus rela hati.

Aku langkahkan kaki dengan kepala tertunduk. Terlalu banyak kata-kata dan kemungkinan yang menyeruak di kepala. Aku abaikan, aku berdiri di depanmu. Aku katakan, “Aku cinta kamu.”

“Mengapa tak dari dulu?” tanyanya heran. “Aku sudah dengan yang lain.”

Sekali lagi. Aku berharap rasa itu mati. Setidaknya jika harapanku terkabul, rasa itu mati dengan tenang, karena sudah kuungkapkan semua.

Tak ada yang lebih membelenggu dari ungkapan cinta yang tak tepat waktu.

42 comments
  1. kuharap rasa ini mati, sendiri.. bersama penyesalan yang kapan itu akan pergi dari hati

  2. sebab biarkan terlambat berucap, walau akhirnya getir kelu didapat. Daripada pengandaian, tanpa lelah berpetak umpet pd kata hati yg terabai🙂

  3. “Aku kembali berdiam dibalik dinding pengecut.” <– kok gue banget yaa?😦

  4. Gia Lianni putri said:

    Kereeeeeen parah!!!!

  5. Ayas said:

    bang, izin nge-post di blog gue ya.

  6. annisanst said:

    Reblogged this on just some of random things🙂 and commented:
    friendship is friendship, nothing good ever come out falling in love with your best friend😐

  7. Reblogged this on just be true for who you are and commented:
    Semua kedekatan kita. Canda tawa saat berbicara tentang hal yang kamu suka. Semua senyum yang kureka, tak sepenuhnya nyata. Senyum itu tulus, hanya saja terlempar dengan getir. Layaknya rasa yang aku tahan, rasa yang terbalut dalam kalut.
    “Tak ada yang lebih membelenggu dari ungkapan cinta yang tak tepat waktu.”

  8. vividivearni said:

    “Mengapa tak dari dulu?” tanyanya heran. “Aku sudah dengan yang lain.” – itu ngenes ya bang

  9. Aku berharap rasa itu mati. Setidaknya jika harapanku terkabul, rasa itu mati dengan tenang – “tapi sayangnya rasa itu tak pernah mati malah semakin kuat dan menolak untuk pergiii ?? jadiiii ~

  10. rismaidk said:

    Jadi, om udah nyatain perasaannya?
    Gimana rasanya pas berhasil ngomongnya om? Pahit? Apa manis karena berhasil ngomong?
    At least, udah ngga ada rasa yang terbelenggu terdiam menunggu lidah ini melantunkan kata-kata yang seharusnya bisa diucapkan dahulu dan cuman jadi sebuah penyesalan :’)
    Get well fast om..

  11. nurul arifin said:

    Pacar gue seperti ini ke sahabat nya , pacar gue diam2 mencintai sahabat nya , pacar gue bang !!!

  12. nisa said:

    isshhh.. abangnya bikin nusuk nusuk😥

  13. nechan said:

    😥 aduhh inihh gue bangett

  14. dyaharn said:

    bang ijin reblogged yaaa , makasiiiih ;D

  15. mrd said:

    yang ini 100% kampret😥

  16. abdul malik said:

    jeleknya my

  17. Felicia said:

    Parah ini gue banget bang! PERSIS !! Tapi kadang gue nyesel pernah ngungkapin karna skrg jadi bener2 ga ngomong kayak ga pernah kenal :(((

  18. hana muthia said:

    “Aku hanya temannya!” bisa jadi lebih kok may

  19. ini kisah gue bangettt
    aaaaaaaaaa , sedih ,nangis

  20. Apa aku mampu mengucap kalimat itu lagi pada orang yang berbeda tapi masih sama dia juga sahabatku :’D

  21. Joey said:

    It’s so hard :’)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: