Sampai Aku Bertemu Kamu

tumblr_mf6ikfEl3v1rmiszuo1_500

Iringi barisan kata ini merasuki mata dan hatimu dengan lagu ini:

Sejak kecil, aku selalu bertanya-tanya, bagaimana bisa ayah dan ibu bertemu setiap hari, tinggal di rumah yang sama, makan di meja yang sama, dan tidur di tempat tidur yang sama, tetapi tak pernah satu pun dari mereka merasa bosan. Aku heran mengapa dua orang yang bertatap muka dengan kadar melebihi jadwal minum obat –lebih dari tiga kali sehari– bisa tidak merasa jenuh.

Aku sering memikirkan hal itu. Sampai aku bertemu kamu.

Baru aku tahu, ternyata sebuah “Aku pamit” rasanya bisa seberat “Selamat tinggal”.

Padahal, baru saja beberapa detik yang lalu kita bercengkrama, tertawa bersama, membahas dunia. Padahal, ini sudah ketiga kalinya dalam satu kali perputaran revolusi bulan kita bertemu. Namun setiap kali waktunya datang ‘tuk berpisah, meski hanya sementara, ‘pamit’ selalu terasa semakin berat. Perpisahan, dalam bentuk apa pun, meski tak seberat “selamat tinggal”, tetap saja rasanya sulit. Ini semua karena aku sudah terlanjur meninggalkan hatiku di ‘rumah’, yaitu di matamu –tempat aku menemukan keteduhan.

IMG_6896 copy

Baru aku sadar, sedetik setelah pergi, manusia bisa rindu orang yang baru ia temuinya lagi.

Aku tidak akan pergi jika tidak harus. Tidak akan dan tidak ingin. Ketika di sampingmulah aku merasa tidak perlu ada lagi yang mesti aku khawatirkan di dunia ini. Karena ketika bersamamu, aku lengkap. Dan ketika denganmu, aku tahu harus bersama siapa harus menghabiskan sisa hidup.

Aku sangat bersyukur dengan semua mimpi yang selama ini berhasil aku raih. Namun jika tanpamu, aku seperti tak sedang menjalani mimpiku. Kamu mimpi terindah yang ingin kujadikan nyata. Sebagian orang berkata tidak ada yang sempurna. Tapi bagiku, kamu sempurna. Lebih dari itu, kamu menyempurnakan aku.

Karena kamu membuat aku merasa cukup.

Aku tidak memilihmu. Kamu tidak memilihku. Namun hidup memilih kita.

Sampai aku bertemu aku.

Aku sadar selamat tinggal ini hanya sementara. Kelak semua akan diakhiri peluk erat dan dekap hangat. Kali ini, setidaknya untuk sementara ini, aku minta kamu peluk aku dengan doa. Dan biarkan aku melanjutkan bergelut dengan hidup, untuk mewujudkan mimpi kita. Untuk hidup di bawah atap yang sama, makan masakan yang sama, berbagi selimut yang sama. Hidup bersama dalam bahagia yang halal, dan kekal. Aamiiin.

16 comments
  1. Annisaaaa said:

    ohhh so swetttttt:3

  2. Tri Sulistia said:

    kurang sweet apalagi coba yang namanya Oka ini:3

  3. vhina said:

    Soooo sweeeeet ♥

  4. koriahnya prawito said:

    Nyess!

  5. Trie R Rasyid said:

    Betapa beruntungnya teh Mia ..

  6. Dewi Martiwi said:

    Aamiin!

  7. Amin, semoga bisa mendapatkan calon imam seperti Bang Oka. Semog bisa seberuntung teh Mia.

  8. icha said:

    Selamat berjuang utk menghalalkanku. Doaku menyertaimu O:)

  9. suci amaliah said:

    ko bisa pas ya, :’)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: