Archive

Author Archives: Dara Prayoga

Hari ini bumi baru saja kehilangan pahlawan terbaiknya.

iamgeekingout_2018-Nov-13

Terima kasih, Stan, telah membuat saya percaya bahwa setiap orang punya superpowernya masing-masing.

Kita hanya lupa kalau superpower bukan hanya milik superhero, tetapi juga milik supervillain. Dan kejutannya, kita bisa saja menjadi superhero dan supervillain dalam waktu yang bersamaan.

Kekuatan yang besar selalu datang bersama tanggung jawab yang besar, sehingga tidak sedikit orang yang tidak bisa mengendalikannya, bisa mengendalikannya tetapi menyalahgunakannya, atau yang paling menyedihkan (atau melegakan?) punya superpower tetapi tidak menyadari itu sama sekali.

Ada mereka yang punya superpower membuat orang jatuh cinta hanya dengan satu senyuman. Namun dihantui rasa bersalah karena puluhan yang datang dengan niat baik, malah pulang dengan hati tercabik.

Mungkin juga ada yang memiliki superpower untuk bertahan pada satu hati sekian lamanya, tetapi kemudian terperangkap membeku tak sanggup untuk memulai dengan yang baru. Menggali cinta sangat dalam, sehingga merangkak keluar menjadi sesuatu yang terasa mustahil.

Pada chapter lain, ada sosok dengan superpower luar biasa penyayang. Namun diikuti hati yang hyper-sensitif terhadap omongan orang lain. Hasilnya. Sakit hati. Setiap hari.

Beda cerita superpower kegigihan berlari mengejar sosok yang diimpikan, lalu kemudian malah menjadi kejam akibat kekebalan rasa pada yang lain. Dengan mudah menganggap semuanya biasa saja pada orang yang selalu ada. Membunuh rasa tanpa sengaja.

Dan yang ini, favorit saya –karena saya sendiri yang sering tidak bisa mengendalikan–, superpower untuk menghancurkan sesuatu yang berharga, yang dibangun dengan waktu dan kesabaran, dihancurkan di detik-detik akhir. Singkatnya, membuat semua berantakan hanya dengan satu jentikan jari. Sialnya, hal ini dihantui kekuatan untuk mengambil tanggung jawab sendiri. Menyalahkan semua yang terjadi pada diri sendiri.

Pada akhir hari, setiap kekuatan menciptakan perjalanan. Selama tidak membunuhmu, kejatuhan hanya akan membuatmu kuat. Hanya perlu doa agar tokoh pendamping dan penonton tidak berhenti terlibat dalam cerita, sampai kesimpulan datang di ujung jalan.

Jadi, apa kekuatan supermu?

Advertisements

Tidak pernah ada yang berkata ini akan mudah.

Fighting for someone has never been easy. For me. For you. For us. Anyone.

Ketika kamu pikir ini adalah tentang berlari, pada akhirnya hanya akan ada lelah menghantui. Tidak ada yang bisa dipetik dari sesuatu yang terburu-buru. Karena, ini adalah tentang langkah demi langkah. Tidak tidak… lebih sedikit dari itu. Inci demi inci, yang di antara jaraknya terhampar bebatuan, yang di setiap detiknya dingin menyerang memilukan.

Sebelum berlayar, seringnya kita melupakan untuk melihat dari ketinggian. Mercusuar di ujung dermaga, memberikan gambaran jelas kapal-kapal yang karam karena ketidaksabaran. Kabut tebal di tengah samudera, mengelamkan segala yang terlihat di ujung mata. Desir ombak, tak sabar ingin menggulung tanpa kasihan.

Kadang kita lupa, ketika dihantam kenyataan, darah cinta mengalir dalam bentuk air mata dan doa. Namun ini bukan tentang berapa kali kita jatuh, bukan soal berapa kali kita saling menyakiti. Bukan pula tentang siapa yang menang antara ego atau kesalahan.

Ini soal waktu.

Kita hanya bisa melihat apa yang diajarkan hidup, jika kita memberikan waktu padanya, dan melewati segala pedihnya.

Seperti gurun tanpa ujung, namun ada keindahan langit penuh bintang di setiap malamnya. Seperti hujan tanpa reda, tetapi ada ketenangan dalam setiap rintiknya. Seperti dingin yang menusuk, ada hangat dalam temu, tawa, berbalut pelukan.

Kita hanya perlu melewatinya untuk tahu apa yang ada di baliknya.

 

Meski sama-sama penuh luka dan dengan tangan berlumur air mata, kita terpapah-papah melalui ini semua. Saling bopong melewati waktu. Dan ketika malam datang, langit semu bertanya padaku,

“Mengapa kamu berjalan sejauh ini?”

Tanpa jeda, dengan satu degup jantung, aku tahu apa alasanku sampai segininya.

Karena aku cinta kamu sampai segitunya.

headline

via Tumblr

Alunkan dan rasakan

Pernahkah kamu marah pada dirimu sendiri hingga rasanya ingin memukul wajahmu sekeras mungkin sampai kamu mati?

Bukan karena bumi bergemuruh atau langit runtuh, tetapi lebih buruk dari itu. Lebih putus asa daripada itu. Karena…

Dia mencintaimu

Kamu melukainya

Pada malam saat kamu tidur. Kamu berharap bayangan buruk akan larut bersama mimpi. Atau kamu merelakan diri, berharap mimpi indah datang memanipulasi kenyataan. Mengembalikan sesuatu yang tak dapat dikembalikan. Waktu.

Pagi hari saat kamu terbangun. Hanya tatapan kosong yang memancar dari sepasang matamu yang mencerminkan hati yang berlubang. Lubang yang kamu gali sendiri. Lubang yang tercipta karena ulahmu sendiri.

Air yang mengalir dari ujung kepala hingga ujung kaki. Kamu berharap bisa menyegarkan raga, meskipun sebenarnya hanya tipu daya. Tetapi setidaknya, hanya sesaat, hanya sepersekian detik. Nyatanya, hanya harapan yang mengalir luruh bersama air melalui sela-sela di sudut lantai.

Pada akhirnya, saat kamu melihat bayanganmu di cermin, kamu tidak melihat dirimu sendiri. Kamu melihat sosok lain. Kamu melihat sisi gelapmu. Kamu melihat monster yang kamu harap tidak pernah menjadi bagian darimu. Kamu melihat dirimu yang berantakan dan memberantakkan.

Rasa sesal itu seperti laut, yang bisa sesekali pasang sesekali surut. Kadang tenang kadang gaduh. Dan hanya satu yang bisa kamu lakukan, belajar untuk tak tersedak di dalam setiap gelombangnya.

via Tumblr

via Tumblr

Tahu apa hal yang lebih buruk yang bisa terjadi?

Tak ada yang bisa menyelamatkanmu.

Kamu bisa lari, kamu bisa sembunyi. Dari orang lain. Tetapi tidak dari dirimu sendiri.

Tidak ada yang lebih menyakitkan dari melihat orang yang kamu cintai sakit karena kebodohanmu sendiri. Kamu tidak bisa menemukan apa pun untuk disalahkan selain dirimu sendiri.

Dan pada akhirnya, yang terburuk dari semua ini adalah…

Kamu harus hidup dengan kenyataan itu.

Dirimu tak pernah kembali utuh. Dirinya mungkin tak akan pernah kembali seperti dulu. Dan kamu semakin mengasah kemampuan terbaikmu, yaitu: menghancurkan setiap apa pun yang telah kamu bangun.

Karena menyakiti orang yang kamu sayangi lebih menyakitkan dari sakit.

Via Tumblr

Via Tumblr

Alunkan lagu ini sebelum membaca:

 

Aku bersyukur dilahirkan menjadi pembangkang.

Pada sebagian besar waktu dalam hidup, aku sering tidak bisa menerima begitu saja.

Aku sering tak percaya apa yang dikatakan orang.

Bagiku, jawaban dari orang lain hanya menambah tanda tanya.

 

Aku lebih percaya kepada hidup.

Tuhan bersama semesta-Nya lebih jujur daripada jujur.

Ia memberikan pertanda kepada setiap makhluk-Nya.

Kita, makhluk yang tak pandai membaca.

 

Ada seorang bijak pernah berkata bahwa kadang kita tak bisa bersama dengan yang dicinta.

Aku berkali-kali bertemu dengan orang yang harus merelakan cintanya dan menerima cukup yang ada.

Merelakan yang telah pergi sedang batin dan raga menjerit berusaha meraih hadirnya.

Kondisi yang beberapa orang coba jalani selamanya dalam hidupnya.

 

Tapi maaf, aku tidak bisa.

Aku tidak bisa untuk tidak menghidupi mimpiku.

Aku tidak bisa untuk merelakan seseorang yang tak tergantikan.

Aku tidak sanggup bila itu bukan kamu.

 

Aku bersyukur dilahirkan menjadi pembangkang.

Karena aku tak ingin berakhir seperti mereka.

Aku tidak akan menuruti perkataan “cinta tak harus memiliki”.

Aku mau memiliki cintaku, itulah mengapa aku memperjuangkan kamu.

 

Aku pernah bermimpi mewujudkan mimpi bersama kamu.

Sebuah mimpi yang tercipta dari alam bawah sadar yang paling dalam.

Yang bahkan aku sendiri tak tahu mengapa aku memimpikannya.

Sampai aku sadar, bahwa mimpi itu harus kuhidupi.

 

Mimpi yang pernah aku rusak sendiri.

Tetapi seperti yang selalu hidup ajarkan kepada aku, aku harus memperbaiki semuanya sendiri.

Itulah mengapa, aku memutuskan untuk tidak menyerah atas kamu.

Aku memilih untuk tidak merelakan kamu.

 

Jika aku ikut percaya seperti orang lain bahwa cinta tak harus memiliki,

Mungkin kini kita tak bersama lagi.

Bersyukur aku kembali padamu,

Sehingga kini aku bisa mewujudkan separuh mimpiku.

 

Terima kasih telah menjadi rumah melalui tatapan lembut itu.

Terima kasih telah menjadi selimut melalui dekap hangat itu.

Terima kasih telah menjadi separuh mimpiku.

Terima kasih telah menjadi sekarangku.

 

Sekarang, genggam tanganku.

Tidak akan pernah aku lepaskanmu.

Temani aku mewujudkan separuh lagi mimpiku.

Menghabiskan sisa hidupku, bersamamu.

IMG_6896 copy

 

Semuanya baik-baik saja, M.

Karena aku dan kamu, telah kembali menjadi kita.

 


 

Via Tumblr

Via Tumblr

Aku tidak pernah mengerti mengapa Tuhan menciptakan kita berjauhan. Tetapi aku lebih tidak mengerti lagi mengapa dan bagaimana bisa Tuhan mempertemukan kita. Semua ini memiliki alasan.

Namun ketika aku berusaha mencari apa maksud dari ini semua, aku terhalang oleh jarak. Seperti para biksu dan guru pada setiap film kolosal, seperti Chinmi dari serial manga Kung Fu Boy yang berguru untuk membelah bulan di air, aku justru menjadikan jarak adalah guruku. Guru kehidupan, guru spiritual, guru seni.

Terkadang kita hanya harus berhenti melawan untuk menang.

Jarak Mengajari Kita Percaya

Sesungguhnya jarak terjauh adalah ketika pasangan selalu bertemu tapi tidak adanya rasa percaya.

Sesungguhnya jarak terjauh adalah ketika pasangan sering bertemu tapi selalu sibuk sendiri-sendiri.

Sesungguhnya jarak terjauh adalah ketika pasangan berdekatan tapi tak ada yang memprioritaskan satu sama lain.

Sesungguhnya jarak yang hitungannya kilometer bukanlah apa-apa jika cinta kamu dan dia itu forever.

Jarak Mengajari Kita Sabar

Via Tumblr

Via Tumblr

Hanya memiliki waktu yang singkat untuk bertemu, lalu mesti menunggu lama untuk bersua lagi. Kurang pelajaran sabar apa lagi?

Ketika ada percikan-percikan pertengkaran kecil, kita terpaksa dan dipaksa oleh keadaan untuk bersabar. Tak apa, itu latihan. Dengan begitu, kesabaran akan melingkupi kita dan bisa lebih mengerti kesabaran.

Jarak Mengajari Kita Waktu

Dengan jarak, kita jadi semakin tahu bahwa untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkan, mesti ada banyak hal yang dikorbankan. Bukan hanya materi dan tenaga, tetapi juga waktu. Semuanya harus diatur sebelum waktu bertemu tiba. Saat-saat mengatur itulah, kedawasaan ditempa.

Via deviantart

Via deviantart

Dengan Jarak, Kita Bisa Melihat Lebih Jelas

Coba dekatkan suatu objek sampai sedekat mungkin dengan mata, apakah kamu bisa melihat sesuatu?

Kita butuh jarak untuk bisa melihat.

Dengan jarak, kamu bisa melihat apakah seseorang benar-benar mencintai kamu atau tidak.

Kalimat itu sangat sederhana, namun pikirkanlah. Ada banyak makna di dalamnya.

Jarak Mengajari Kita Mengalahkan Musuh yang Lebih Nyata

Ego.

Menang atau kalahnya suatu hubungan, dapat dilihat dari apakah bisa meruntuhkan ego masing-masing.

Jarak Mengajari Kita Usaha Jauh Lebih Besar Dari Sekadar Bicara

Via Tumble

Via Tumblr

Jarak membedakan mana orang yang sekadar bicara, dan mana yang perbuatannya nyata.

Jarak Mengajari Kita Untuk Saling Menemukan

Via Tumblr

Via Tumblr

Via Tumblr

Via Tumblr

Dan mengapa jarak begitu mengajari kita banyak hal. Semua ini pasti memiliki alasan. Aku yakin alasannya adalah, kita.

tumblr_mf6ikfEl3v1rmiszuo1_500

Iringi barisan kata ini merasuki mata dan hatimu dengan lagu ini:

Sejak kecil, aku selalu bertanya-tanya, bagaimana bisa ayah dan ibu bertemu setiap hari, tinggal di rumah yang sama, makan di meja yang sama, dan tidur di tempat tidur yang sama, tetapi tak pernah satu pun dari mereka merasa bosan. Aku heran mengapa dua orang yang bertatap muka dengan kadar melebihi jadwal minum obat –lebih dari tiga kali sehari– bisa tidak merasa jenuh.

Aku sering memikirkan hal itu. Sampai aku bertemu kamu.

Baru aku tahu, ternyata sebuah “Aku pamit” rasanya bisa seberat “Selamat tinggal”.

Padahal, baru saja beberapa detik yang lalu kita bercengkrama, tertawa bersama, membahas dunia. Padahal, ini sudah ketiga kalinya dalam satu kali perputaran revolusi bulan kita bertemu. Namun setiap kali waktunya datang ‘tuk berpisah, meski hanya sementara, ‘pamit’ selalu terasa semakin berat. Perpisahan, dalam bentuk apa pun, meski tak seberat “selamat tinggal”, tetap saja rasanya sulit. Ini semua karena aku sudah terlanjur meninggalkan hatiku di ‘rumah’, yaitu di matamu –tempat aku menemukan keteduhan.

IMG_6896 copy

Baru aku sadar, sedetik setelah pergi, manusia bisa rindu orang yang baru ia temuinya lagi.

Aku tidak akan pergi jika tidak harus. Tidak akan dan tidak ingin. Ketika di sampingmulah aku merasa tidak perlu ada lagi yang mesti aku khawatirkan di dunia ini. Karena ketika bersamamu, aku lengkap. Dan ketika denganmu, aku tahu harus bersama siapa harus menghabiskan sisa hidup.

Aku sangat bersyukur dengan semua mimpi yang selama ini berhasil aku raih. Namun jika tanpamu, aku seperti tak sedang menjalani mimpiku. Kamu mimpi terindah yang ingin kujadikan nyata. Sebagian orang berkata tidak ada yang sempurna. Tapi bagiku, kamu sempurna. Lebih dari itu, kamu menyempurnakan aku.

Karena kamu membuat aku merasa cukup.

Aku tidak memilihmu. Kamu tidak memilihku. Namun hidup memilih kita.

Sampai aku bertemu aku.

Aku sadar selamat tinggal ini hanya sementara. Kelak semua akan diakhiri peluk erat dan dekap hangat. Kali ini, setidaknya untuk sementara ini, aku minta kamu peluk aku dengan doa. Dan biarkan aku melanjutkan bergelut dengan hidup, untuk mewujudkan mimpi kita. Untuk hidup di bawah atap yang sama, makan masakan yang sama, berbagi selimut yang sama. Hidup bersama dalam bahagia yang halal, dan kekal. Aamiiin.

tumblr_nali5tdOat1rxwlxqo1_500

Tidak ada lagu lain yang bisa menggambarkan apa yang aku rasakan di malam hujan selain lagu ini:

Ini malam kedua belas sejak terakhir kita bertemu. Namun terasa seperti selamanya. Sedangkan waktu bersama kamu, seperti durasi selamanya dibagi selamanya lalu diakarkan dengan selamanya. Lebih cepat dari waktu yang dibutuhkan seokor Hummingbird untuk melancarkan satu kepakan sayap.

Januari boleh berlalu. Namun sebelum januari yang baru datang, aku tetap merasa seperti baru jatuh cinta. Jika ada ceruk cawan terbesar dari langit, maka akan retak untuk menampung rindu yang beringas ini. Jika ada awan yang pantas menurunkan hujan paling romantis, maka dia akan gigit jari mendengar setiap doa lirih yang di dalamnya terselip namamu.

Satu hal paling aku benci dari pertemuan kita adalah debar di dada yang rasanya seperti baru pertama jatuh cinta. Satu hal paling berat ketika bertemu kamu adalah pada saat perjalananku pulang kembali ke bumi. Bumiku yang tanpa kamu.

giphy

Dari dalam sini terlihat hujan deras. Jika orang-orang bersuyukur tetap di bawah atap, sedang kepalku harus bergemeretak karena diri ini tak dapat menjangkaumu dalam dekap.

Jarak.

Jarak ada untuk ditempuh. Bukan untuk dikeluh karena jauh.

Aku selalu percaya semua yang indah tak pernah bisa didapat dengan mudah. Semua yang berarti, menuntut untuk korbankan diri. Kita, pergi ke arah yang berlawanan, bukan untuk menjunjung sebuah perpisahan. Kita hanya sedang memantaskan. Kita harus mencoba mengarungi belantara sendiri. Menghadapi masalah yang rumit dengan kemampuan diri.

Bersamamu, segalanya terasa lebih mudah. Pasti.

Namun aku selalu ingat apa yang hidup ajarkan, yang selalu ayah katakan,

“Kita tak bisa selalu mendapatkan apa yang kita mau di waktu yang kita inginkan. Tuhan lebih tahu. Doamu bukan tidak dikabulkan, hanya saja digantikan dengan yang lebih indah, atau disimpan sampai waktu yang lebih indah.”

Aku selalu percaya waktu itu akan datang. Waktu di mana kita menghadapi kerasnya dunia bersama. Waktu di mana kita bisa menari di bawah hujan bukannya menunggu badai reda. Waktu di mana aku merasa baik-baik saja ketika genggam tanganmu ada.

Layaknya sebuah mutiara, aku harus menyelam lebih dalam untuk mendapatkan keindahannya. Maka aku mengerti. Selagi aku terus ditempa dunia, aku tetap harus menghadap ayahmu, mengajaknya bicara, mendekatinya. Karena apa? Aku harus sehebat, setenang, dan semengerti beliau dalam menghadapimu.

Karena jika aku tak sesayang ayahmu, aku tak layak untuk duduk berdua denganmu mengenakan tudung putih bersandingan, menjabat tangan beliau, mengucap nama kamu, mengambil alih tanggung jawabnya untuk membahagiakanmu.

Percayalah, aku sanggup.

Kita hanya perlu bersabar.

Ketahuilah satu hal. Jarak dan waktu antara kita besarnya tidak pernah melebihi rasa sayang yang ada.