Archive

Merenung

tumblr_lcd4myMlhg1qc6yb1o1_500_large

Kamu berputar-putar di situ saja. Dari sebuah padang ilalang, ke gurun yang begitu gersang. Tak puas, kamu berlari lagi, mencari lagi. Meninggalkan yang belum selesai. Akhirnya hanya mendapati diri kamu sendiri di tepian jurang.

Mencari yang lebih baik.

Sebuah kalimat yang aku percaya tidak akan ada ujungnya. Mencari yang lebih baik hanya akan membawamu ke perjalanan tiada akhir. Perjalanan penuh dengan ketidakpuasan. Rasa haus yang menyiksakan.

Aku paham, semua orang ingin sesuatu yang lebih baik. Akan tetapi, ada kalanya kamu harus berhenti, beristirahat, lalu berpikir, “Apakah aku sudah cukup jauh mencari? Atau bahkan terlalu jauh?”

Mencari yang lebih baik, berarti meninggalkan yang lebih buruk. Atau setidaknya, yang kamu anggap lebih buruk. Aku hanya ingin menyadarkan. Orang-orang yang kamu anggap tidak cukup baik dan kamu tinggalkan demi yang lebih baik itu yang justru lebih pantas mendapatkan yang lebih baik. Dan itu pasti.

Karena orang-orang yang sembarang meninggalkan semata demi yang lebih baik, adalah orang yang tidak cukup baik.

Rasa lelah kadang terlambat hadir. Ia kadang muncul ketika semuanya sudah terlalu jauh dan terlalu penat karena tak kunjung mendapatkan yang lebih baik. Karena yang lebih baik itu sebenarnya tidak ada. Itu hanyalah sosok semu yang kamu ada-ada. Sosok nyatanya hanyalah dia yang dengan segala ke-kurang-baik-kannya, selalu ada untukmu. Tapi sayangnya kamu lewatkan itu.

Di saat itu, kamu harus menengok ke dalam. Dan tanyakan pada diri kamu sendiri, “Apa kamu sudah cukup baik untuk orang yang kamu sebut lebih baik?”

Jadi, ada baiknya mempersiapkan diri sebaik mungkin untuk layak jadi tempat singgah selamanya… bagi dia yang terbaik.

Semoga masing-masing dari kita mendapatkan yang terbaik, setidaknya dari sudut pandang mata hati kita sendiri. Dan semoga kita tepat waktu untuk merasa lelah mencari, dan mengistirahatkan hati di jiwa orang yang tepat, yang tulus dalam mengasihi.

sumber foto

Foto: kaie3yelleee

Foto: kaie3yelleee

Duduk. Dan berpikirlah.

“Aku yang lebih sayang sama kamu dibanding dia!”

Kalimat itu bukanlah sebuah persoalan, karena besar atau tidaknya sebuah sayang tidak akan berarti apa-apa kalau semua itu cuma dipendam.

Memendam perasaan bukan cara yang bagus untuk menunjukkan seberapa besar sayangnya kamu untuknya.

Risiko terbesar memendam perasaan adalah melihat dia dimiliki seseorang yang sayangnya tidak sebesar sayangmu.

Mau sayangmu lebih besar dari sayangnya, atau biarpun kamu yang lebih dahulu jatuh cinta padanya, semuanya sia-sia jika hanya dipendam.

Kamu boleh bangga punya sayang lebih besar atau lebih dulu jatuh cinta padanya, tapi pemenangnya tetap mereka yang mengungkapkan.

“Memendam perasaan” adalah makhluk yang akan menggerogoti hati sendiri… sampai habis. Tak bersisa.

Memendam perasaan adalah bom waktu. Tinggal tunggu, meledak menjadi ungkapan perasaan, atau menjadi ledakan tangisan.

Memendam perasaan karena takut jika mengungkapkan malah membuat jauh? Justru dengan memendam, kamu menjauhkan hati kamu, dengan hatinya.

Mereka yang sayangnya lebih besar tapi dipendam, terduduk di pojok hati penuh ruang. Mereka yang mengungkapkan, tersenyum menang.

Perasaan. Semakin dipendam, semakin tenggelam. Dalam diam.

Pada akhirnya, sayang yang lebih besar, cinta yg lebih dulu ada, tak ada apa-apanya jika dibandingkan rasa yang diungkapkan.

Untuk kamu yang memendam perasaan, selamat menunggu… selamanya.

Foto: Mark Ryan

Aku bersembunyi di balik sepi.

Tangisan berselimut dalam kesunyian.

Dan perasaan, tertutup agungnya pertemanan.

Setidaknya itu menurutmu.

Bagimu, pertemenan ini memang hanya pertemanan. Ya, aku tak bisa menyalahkan itu. Yang bisa aku lakukan hanyalah menyalahkan diri sendiri yang terus saja mengingkari hati, bahwa rasa ini bukan sesuatu yang berarti.

Semua kedekatan kita. Canda tawa saat berbicara tentang hal yang kamu suka. Semua senyum yang kureka, tak sepenuhnya nyata. Senyum itu tulus, hanya saja terlempar dengan getir. Layaknya rasa yang aku tahan, rasa yang terbalut dalam kalut.

Aku tak bisa menyampaikannya. Aku hanya tak ingin menghancurkan apa yang selama ini kita bangun. Dan pada akhirnya, aku tancapkan kail ragu, kalut, dan takut pada rasa ini, kemudian menggantungkannya di relung hati. Sambil berharap itu mati. Sendiri.

Semuanya berubah, ketika akhirnya aku sadar rasa itu semakin gagah. Membentur-benturkan dirinya ke dinding jiwa, membuatku hampir gila.

Aku hanya temannya!” pekikku.

Aku kembali berdiam di balik dinding pengecut. Dinding egois yang memisahkan rasa ini dari hati yang ingin diraihnya. Aku ikat erat-erat sayang yang sudah terlanjur pekat.

Rasa itu tak kunjung pergi, malah aku yang hampir mati. Aku tak sanggup lagi. Jika memang semuanya harus berakhir di sini, aku harus rela hati.

Aku langkahkan kaki dengan kepala tertunduk. Terlalu banyak kata-kata dan kemungkinan yang menyeruak di kepala. Aku abaikan, aku berdiri di depanmu. Aku katakan, “Aku cinta kamu.”

“Mengapa tak dari dulu?” tanyanya heran. “Aku sudah dengan yang lain.”

Sekali lagi. Aku berharap rasa itu mati. Setidaknya jika harapanku terkabul, rasa itu mati dengan tenang, karena sudah kuungkapkan semua.

Tak ada yang lebih membelenggu dari ungkapan cinta yang tak tepat waktu.

Foto: spesial

Aku mencari-cari. Aku mencari sosok dirimu. Mengikuti sejejak demi sejejak langkahmu. Membaui bayang demi bayang. Semuanya menuntunku pada satu tempat yang sepertinya tak asing lagi.

Di tempat itu aku melihat ke sekeliling, terhampar padang ilalang membuat mata memincing. Matahari oranye melukiskan siluet wajah yang aku kenal. Bukan kamu.

Aku mencari lagi, ke tempat bumi tak berputar lagi. Tempat di mana yang berkuasa hanyalah hati. Namun apa yang aku dapat? Masih kamu, dalam bayangan.

Aku membuka pintu usang, di baliknya hanya jurang. Aku melihat ke dalamnya. Tidak tidak. Aku menatap jurang itu. Aku tahu aku pernah bertemu dan menatap sedalam ini. Ya, matamu.

Di dasarnya aku menemukan kamu. Kamu yang dulu.

Dan kini kita, hanyalah sisa-sisa rasa putus asa.

Foto: spesial

Beberapa orang menunggu, dan beberapa orang lainnya tak tahu sedang ditunggu.

Lantas salahkah dia jika dia terus berjalan ke depan? Semakin menjauh.

Orang yang jatuh cinta namun hanya menunggu, lebih sia-sia dari menggarami air laut. Jangan pernah salahkan orang yang ditunggu jika mengungkapkan perasaan saja tak mampu.

Kebesaran cinta tak bisa diukur dengan seberapa lama menunggu, tetapi seberapa berani menungkapkannya dengan tulus dan cara yang indah.

Cinta yang utuh tidak layak menunggu terlalu lama, karena seiring berjalannya waktu hati itu akan habis dimakan sendiri.

Mencinta diam-diam adalah hal paling egois di dunia. Tak ada yang lebih egois dari seseorang yang memenjarakan hatinya sendiri. Begitu besar egonya menahan rasa cinta yang begitu ingin menyeruak ke luar, terbang bebas ke hati yang ingin disinggahinya.

Aku takut hatinya enggan menampungku.

Itu hanya alasan yang diada-ada sebuah sangkar hati yang egois. Hati sudah terlalu kenyang dengan alasan aku tak pantas untuk dia, aku bukan siapa-siapa baginya, dia tak menginginkanku, dan alasan egois lainnya.

Jangan kekang cinta. Bebaskan, terbangkan, maka ia akan kembali dengan sangkar barunya yang indah, untukmu. Layaknya burung camar terbang mengarungi sore yang indah di pesisir pantai.

Foto: Jared

“Mencinta, harusnya layaknya dendam. Mesti berbalas.”

Beberapa orang pernah merindu hingga menangis.

Ingin memeluknya hingga sesak napas.

Semua semata karena tak ada balasan darinya. Jangankan balasan, tahu pun dia tidak. Jatuh cinta sendirian membuatmu kuat, memiliki tenaga layaknya monster, hampir tak terbatas.

Namun semuanya habis diserap penasaran, diserap prasangka yang dibangun sendiri, kemudian jumlahnya menjadi minus ketika persepsi baik yang kamu bangun bangun sendiri ternyata salah.

Berhentilah menebak-nebak. Melelahkan. Jika dia tak bisa memberikanmu kepastian. Mintalah. Rebut kepastianmu sendiri. Jangan biarkan hatimu kaududukkan di kursi yang bahkan kursi itu tak ingin diduduki, atau sudah ada yang menduduki hanya saja sedang pergi sejenak.

Bicara, maka semua penasaran akan sirna.

Karena cuma satu hal yang pasti, yaitu ketidakpastian.

Foto: spesial

Pernahkah kamu melihat badai sebesar itu?

Pernahkah kamu melewatinya?

Banyak di antara kamu pasti pernah melewatinya. Punya banyak hal untuk diceritakan, dibanggakan. Bersukur karena telah melewati badai terbesar yang pernah kamu temui. Merumuskan cara yang mungkin kebetulan kamu temui saat melewati badai besar tadi, dan membuat daftar apa saja yang perlu disiapkan saat menemui badai sedahsyat itu.

Semua yang besar, akan jelas terlihat, akan cukup waktu untuk menyadarinya dan kemudian bersiap menghadapinya. Namun bagaimana kisahnya jika badai itu kecil? Bahkan lebih kecil dari badai, mungkin juga lebih kecil dari kerikil pantai.

Foto: Matthew High

Ketika kamu menemui sebuah badai, badai yang besar. Kamu akan menyadarinya lebih awal. Akan lebih banyak waktu untuk mempersiapkan diri. Semua itu bisa mendukungmu melewati semuanya, meski sendiri.

Akan tetapi, jika bentuknya kecil, anggap saja lebih kecil dari kerikil, kadang kamu tak pernah menyadarinya. Kamu tak punya persiapan. Kamu tak punya ancang-ancang. Bahkan cenderung meremehkan, menghadapinya begitu saja. Hasilnya apa? Kaki yang berdarah. Rasa sakit yang menyelinap ke dalam, perlahan.

Sesuatu yang kecil bisa menyelinap dan menghancurkan dari dalam. Dan yang paling menakutkan adalah, semuanya terjadi tanpa sempat kamu sadari.

Ironis rasanya mengetahui bagaimana seorang manusia bisa dengan percaya diri dan mudahnya melewati sebuah badai yang besar. Namun dalam waktu yang sama mengetahui ada beberapa pasang manusia yang bisa hancur hanya karena kerikil kecil.

Sepasang manusia yang akhirnya rela saling melepaskan genggaman tangan hanya karena ancaman kerikil kecil, padahal sebelumnya pernah melewati puluhan badai yang luar biasa besarnya berdua. Logikanya, sepasang manusia yang berhasil melewati badai berdua atas nama cinta pasti lebih bisa melewati kerikil kecil. Namun sekali lagi, cinta seringkali tak sejalan dengan logika.

Badai yang besar harusnya malu kepada kerikil kecil. Dan sepasang manusia yang kehilangan cinta hanya karena kerikil kecil, akan tertutup mukanya oleh pasir yang terbawa angin badai.

Aku tak ingin malu di depan badai dan kerikil, beserta pasir yang senantiasa menyertai mereka.

Sebuah cinta, semestinya lebih digdaya dari badai dan kerikil yang melanda.

Kepada kamu, genggam tanganku. Kita lewati badai, kita langkahi kerikil.