Archive

Tag Archives: Aku

Foto: Ulf Buschmann

Hitam. Kelam. Legam. Lebam. Masa lalu bersamamu begitu hitam. Rasanya begitu kelam. Tak terlihat karena legam. Namun begitu terasa hingga membuat lebam.

Kamu seperti bayang-bayang. Terus mengikuti ke mana langkahku pergi. Rasanya ingin pergi, tetapi langkah bayangmu lebih cepat mengikuti.

Kamu sudah jauh berada di depan, akan tetapi bayangnya begitu dekat di belakang. Apa yang bisa aku lakukan? Hanya mengira-ngira, apakah bayangan itu akan memeluk dari belakang, atau berencana menusukku dengan belati dendamnya.

Akhirnya, aku memutuskan untuk diam. Karena semakin aku berlari, semakin lelah aku mencari. Rasanya, sia-sia saja aku melangkah, bayangmu begitu lekat. Terpaksa aku kembali ke masa laluku yang aram, hanyak agar bayanganmu yang terus mengganggu akhirnya karam.

Sayangnya, seiring dengan terbitnya mentari di pelupuk hati, bayang itu datang lagi.

Advertisements

Foto: spesial

Aku menulis ini sambil mendengarkan Home dari Michael Buble. Tetiba aku merindukan rumah. Bukan rumah lengkap dengan atap dan lantai tempat aku tumbuh, bukan juga yang isinya sebuah ruang berisi furnitur dan barang elektronik tempat aku dan keluarga berdiskusi.

Aku rindu kamu, aku rindu aku, aku rindu kita yang dulu lagi. Aku rindu cinta, yang sejak beberapa waktu lalu, sejak awal kita bertemu menjadi rumah untukku. Ke mana rumah itu sekarang? Atau rumah itu tetap ada tetapi aku yang tak sedang di rumah? Lantas, berada di mana aku saat ini? Kamu di mana?

Banyak yang sudah kita lalui di rumah itu. Tawa, canda, tangis, semua menjadi satu membentuk sebuah bingkai. Aku tak ingin semuanya hanya menjadi bingkai kenangan. Siapa pemilik rumah itu sebenarnya? Aku, atau kamu? Mengapa tak kita miliki bersama saja rumah itu. Kita tinggali bersama.

Atau kamu sudah tidak mau lagi tinggal bersamaku di rumah itu? Aku akui, rumah itu tak sempurna, selalu ada tetesan-tetesan air mata keluar dari atapnya. Tapi juga banyak suara semilir gelak tawa dari jendelanya yang rapuh sesekali melewati sela antara daun telinga. Namun aku tak ingin meninggalkannya, aku tak akan meninggalkannya tanpa kamu. Aku tak ingin rumah yang baru. Yang aku ingin hanya rumah ini, bersama kamu.

Kamu, kembalilah ke rumah. Tak inginkah kamu pulang? Aku mau pulang.

Kita duduk berdua

Api itu masih ada

Pasir sepi mengisi sela jari

Menunggu siapa lebih dulu pergi

 

Air mata turun menyusuri pipiku

Ditangkup lengkung senyum palsu

Kita enggan beranjak pergi

Hanya ingin tak saling sakiti

 

Api itu hampir padam

Maka dekap aku tuk meredam

Menjaga tungku kasih yang hampir padam

Bersamamu, tak ada dingin yang tak kugenggam

Mau ke mana, kamu?

photo by Miruna Uzdris

Mau ke mana, kamu?

Sesekali aku melihat wajahmu, aku dekati, kucoba sentuh. Jari ini terbentur. Rinduku terhalang layar, dunia maya.

Sayup suaramu terdengar. Kucoba raba sumber suara yang juga menjadi sumber rinduku. Lagi, kali ini kangen terhalang speaker.

Kamu, masih setia menemaniku, meski hanya dari balik plastik bening dalam lipatan dompetku.

Aku masih setia bersamamu. Di atas garis masa ini. Kamu dalam wujud rengkaian huruf menjadi seuntai kata. Namamu, kamu.

Besok juga aku masih setia, mungkin dalam wujud lain. Melalui panjatan doa menjulang tinggi, kurasa bisa menghujam Tuhan.

Menyebut namamu, aku selalu berbisik. Bukan tak ingin terdengar, hanya memastikan namamu aman di bibirku.

Hari ini sangat panas. Panasnya tak seperti hatiku yang merah. Bagiku, itu sudah menjadi rambu bahwa cintaku berhenti di kamu.

Kamu yang tak pernah kembali. Jika selalu begitu, bagaimana jika aku saja yang kembali padamu, kamu?

Kelak ketika kamu mengandung anak dari suamimu yang bukan aku, mungkin rindu ini sudah melahirkan kangen.

Besok, kita kirim-kiriman doa lagi ya. Tapi jangan saling kasih tau.

Kamu, yang masih terperangkap dalam kotak itu, kotak kenangan. Kotak Pandora yang tak pernah ingin kamu buka, tetapi sudah bisa membuatmu tersesat dengan hanya membayangkannya saja. Sejenak aku pikir akulah orang yang tepat menyelamatkanmu dari sana. Namun siapa orang paling sulit untuk ditolong? Orang yang tak mau ditolong.

Entahlah, ini antara kamu yang tak mau kutolong, atau malah kamu meminta tolong pada kenanganmu dari aku. Rasanya seperti tarik-menarik. Aku tarik kamu ke depan, tapi sepertinya kenanganmu lebih keras menarikmu ke belakang. Kadang aku melonggarkan genggamanku hanya demi menjaga tali antara aku, kamu, dan kenanganmu tak putus. Aku tak mau mendapati kamu terjatuh ke pusara kehampaan, tanpa aku. Di sisi lain, aku tak ingin kamu lepas.

Besok, ketika aku terbangun lagi, aku selalu penasaran. Sampai kapan kamu mau tinggal di sana? Aku sudah mengulurkan tangan, tangan penuh luka karena memperjuangkanmu.

Kamu, selalu menjadi sosok yang ingin kukibarkan di hati. Kuperjuangkan bebas dari rindu, apalagi sepi. Aku rela pasang badan menghadapi gengsi.

Kurasa, wajahmu terbuat dari racikan hujan pada jendela beserta embunnya. Dan jika aku melihatnya dalam sebuah perjalanan, tak ada rasa yang bisa menggambarkan selain kata.

Kamu, kapanpun kamu melihatku tertidur, entah karena terlalu lelah memperjuangkanmu, atau terlalu bosan menunggumu, jangan bangunkan aku. Kamu, tolong bangunkan aku, hanya ketika kamu sudah beranjak dari kenangan itu.

Beberapa orang menikmati paginya bersama ceruk cangkir sepi berisi rindu yang masih hangat.

Beberapa lainnya masih enggan beranjak dari selimut sayang semu, hanya agar terhindar dari dinginnya sunyi.

Sebagian orang masih setia bermain, berlari, mungkin terjatuh dalam mimpi tentangnya. Enggan terjaga hanya karena terbayang kenyataan tak seindah itu.

Sejumlah orang bahkan terperangkap dalam kotak kenangan yang padahal tak pernah ia buka, hanya ia bayangkan dan ingat-ingat.