Archive

Tag Archives: Cinta

Via Tumblr

Via Tumblr

Aku tidak pernah mengerti mengapa Tuhan menciptakan kita berjauhan. Tetapi aku lebih tidak mengerti lagi mengapa dan bagaimana bisa Tuhan mempertemukan kita. Semua ini memiliki alasan.

Namun ketika aku berusaha mencari apa maksud dari ini semua, aku terhalang oleh jarak. Seperti para biksu dan guru pada setiap film kolosal, seperti Chinmi dari serial manga Kung Fu Boy yang berguru untuk membelah bulan di air, aku justru menjadikan jarak adalah guruku. Guru kehidupan, guru spiritual, guru seni.

Terkadang kita hanya harus berhenti melawan untuk menang.

Jarak Mengajari Kita Percaya

Sesungguhnya jarak terjauh adalah ketika pasangan selalu bertemu tapi tidak adanya rasa percaya.

Sesungguhnya jarak terjauh adalah ketika pasangan sering bertemu tapi selalu sibuk sendiri-sendiri.

Sesungguhnya jarak terjauh adalah ketika pasangan berdekatan tapi tak ada yang memprioritaskan satu sama lain.

Sesungguhnya jarak yang hitungannya kilometer bukanlah apa-apa jika cinta kamu dan dia itu forever.

Jarak Mengajari Kita Sabar

Via Tumblr

Via Tumblr

Hanya memiliki waktu yang singkat untuk bertemu, lalu mesti menunggu lama untuk bersua lagi. Kurang pelajaran sabar apa lagi?

Ketika ada percikan-percikan pertengkaran kecil, kita terpaksa dan dipaksa oleh keadaan untuk bersabar. Tak apa, itu latihan. Dengan begitu, kesabaran akan melingkupi kita dan bisa lebih mengerti kesabaran.

Jarak Mengajari Kita Waktu

Dengan jarak, kita jadi semakin tahu bahwa untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkan, mesti ada banyak hal yang dikorbankan. Bukan hanya materi dan tenaga, tetapi juga waktu. Semuanya harus diatur sebelum waktu bertemu tiba. Saat-saat mengatur itulah, kedawasaan ditempa.

Via deviantart

Via deviantart

Dengan Jarak, Kita Bisa Melihat Lebih Jelas

Coba dekatkan suatu objek sampai sedekat mungkin dengan mata, apakah kamu bisa melihat sesuatu?

Kita butuh jarak untuk bisa melihat.

Dengan jarak, kamu bisa melihat apakah seseorang benar-benar mencintai kamu atau tidak.

Kalimat itu sangat sederhana, namun pikirkanlah. Ada banyak makna di dalamnya.

Jarak Mengajari Kita Mengalahkan Musuh yang Lebih Nyata

Ego.

Menang atau kalahnya suatu hubungan, dapat dilihat dari apakah bisa meruntuhkan ego masing-masing.

Jarak Mengajari Kita Usaha Jauh Lebih Besar Dari Sekadar Bicara

Via Tumble

Via Tumblr

Jarak membedakan mana orang yang sekadar bicara, dan mana yang perbuatannya nyata.

Jarak Mengajari Kita Untuk Saling Menemukan

Via Tumblr

Via Tumblr

Via Tumblr

Via Tumblr

Dan mengapa jarak begitu mengajari kita banyak hal. Semua ini pasti memiliki alasan. Aku yakin alasannya adalah, kita.

Advertisements

Terima kasih sudah menyajikan cinta yang begitu nyaman.

falling-girl-photography-water-Favim.com-129400

Terima kasih sudah manangkapku yang terjatuh. Membangunkanku lagi. Kemudian menjatuhkan hati. Dan mendaratkannya di bantalan kasih seindah dunia peri.

Terima kasih sudah menyelamatkan rasa yang hampir tenggelam, dengan hadir dalam hidupku walau penuh lebam.

tumblr_lwwone2BHy1qzleu4o1_1280

Terima kasih sudah menyeka luka, sehingga senyum itu muncul lagi terlihat di air muka.

Terima kasih sudah menjadi penawar harap yang dulu mulai memudar.

Terima kasih karena membiarkan aku belajar, meski aku tak pernah merasa cukup.

550px-I-Will-Never-If-You-Never

Aku tak pernah merasa cukup dengan kasih darimu yang senyaman ibu.

Aku selalu merasa kurang akan tempat untuk membuktikan diri, bahwa aku pria sejati. Dan kamu hadir, memberikan kesempatan itu.

Aku tak pernah puas berusaha segenap jiwa membahagiakan kamu perajut asa.

Aku bisa selalu lapar untuk kamu ajari bagaimana mencinta dengan setulus hati.

tumblr_lzqgntSStP1r90rkno1_500_large

Sebuah impian bisa terbangun di suatu pagi dengan parasmu di sampingku, setelah berebut selimut di malam penuh kabut.

Kelak aku hanya ingin terjaga karena sinar matahari yang masuk seraya kamu bukakan jendela, dan melayangkan sebuah kecupan di mata.

Aku selalu memimpikan denting adukan sendok di secangkir teh hangat, lengkap dengan senyum manismu yang kunantikan dengan sangat.

Kepada kamu yang akan selalu menjadi alasanku untuk pulang.

Sumber foto

Sumber foto

Sumber foto

Sumber foto

Foto: Mark Ryan

Aku bersembunyi di balik sepi.

Tangisan berselimut dalam kesunyian.

Dan perasaan, tertutup agungnya pertemanan.

Setidaknya itu menurutmu.

Bagimu, pertemenan ini memang hanya pertemanan. Ya, aku tak bisa menyalahkan itu. Yang bisa aku lakukan hanyalah menyalahkan diri sendiri yang terus saja mengingkari hati, bahwa rasa ini bukan sesuatu yang berarti.

Semua kedekatan kita. Canda tawa saat berbicara tentang hal yang kamu suka. Semua senyum yang kureka, tak sepenuhnya nyata. Senyum itu tulus, hanya saja terlempar dengan getir. Layaknya rasa yang aku tahan, rasa yang terbalut dalam kalut.

Aku tak bisa menyampaikannya. Aku hanya tak ingin menghancurkan apa yang selama ini kita bangun. Dan pada akhirnya, aku tancapkan kail ragu, kalut, dan takut pada rasa ini, kemudian menggantungkannya di relung hati. Sambil berharap itu mati. Sendiri.

Semuanya berubah, ketika akhirnya aku sadar rasa itu semakin gagah. Membentur-benturkan dirinya ke dinding jiwa, membuatku hampir gila.

Aku hanya temannya!” pekikku.

Aku kembali berdiam di balik dinding pengecut. Dinding egois yang memisahkan rasa ini dari hati yang ingin diraihnya. Aku ikat erat-erat sayang yang sudah terlanjur pekat.

Rasa itu tak kunjung pergi, malah aku yang hampir mati. Aku tak sanggup lagi. Jika memang semuanya harus berakhir di sini, aku harus rela hati.

Aku langkahkan kaki dengan kepala tertunduk. Terlalu banyak kata-kata dan kemungkinan yang menyeruak di kepala. Aku abaikan, aku berdiri di depanmu. Aku katakan, “Aku cinta kamu.”

“Mengapa tak dari dulu?” tanyanya heran. “Aku sudah dengan yang lain.”

Sekali lagi. Aku berharap rasa itu mati. Setidaknya jika harapanku terkabul, rasa itu mati dengan tenang, karena sudah kuungkapkan semua.

Tak ada yang lebih membelenggu dari ungkapan cinta yang tak tepat waktu.

Foto: spesial

Sebuah cinta, mestinya seutuhnya.

Tak ada yang lebih menyakitkan dari cinta yang dibagi. Sejatinya, semua orang ingin dicintai secara total. Satu. Kadang cinta tak cukup mencintai satu.

Sebelum yang kamu cintai sekarang, pasti ada orang yang pernah kamu cintai juga. Akan begitu seterusnya. Namun ini semua bukan tentang cinta yang tertinggal, tetapi bagaimana kamu menggunakan cinta yang ada, untuk mencintai dengan penuh.

Percayalah, sebuah cinta akan terisi dengan sendirinya sampai penuh. Kadang sampai luber.

Cinta yang berlebihan, apalagi kekurangan, sama-sama tak baik. Tapi kita hanya manusia biasa. Kadang cinta yang sudah satu, digunakan mencintai seseorang–yang tanpa alasan jelas bisa pergi sewaktu-waktu– dalam sebuah kurun waktu, hingga saatnya ada orang baru. Cinta yang berlebihan, pada saat yang tepat, pada saat yang disepakati itu benar, harus dibagi.

Maafkan aku, sayang. Sepertinya cintaku yang satu, kepadamu, kelak akan terbagi. Aku tak akan kuat menahan terbaginya cintaku yang satu ini. Aku sudah melihat cinta yang ini akan berlebihan, aku membutuhkan wadah yang baru untuknya. Entah dirimu akan terima atau tidak, tetapi aku harus membagi cinta yang satu ini.

Kelak, cintaku akan terbagi, untuk seorang gadis. Seorang gadis kecil yang di pagi hari nanti aku ikatkan tali sepatunya pada hari pertama ia sekolah, yang mencium tanganku sebelum melangkahkan kaki kecilnya ke dunia yang baru, yang ketika dalam malam yang sama aku pulang dia bergegas menghampiri, “Ibu, ayah pulang!” seraya berteriak memanggil kamu.

Berkenankah, kamu?

Foto: spesial

Mencintai dengan tulus, bukan bagaimana menimbang-nimbang bagaimana kelebihannya bisa kamu seimbangkan dengan dirimu sendiri. Mencintai dengan tulus adalah bagaimana kamu menerima segala kekurangannya. Namun apakah kita mencintai hanya ingin mendapat kekurangannya? Semua orang pasti memiliki kelebihan, akan tetapi anggap saja itu bonus. Agar kelak kita tak jumawa dan memanfaatkan.

Mencintai adalah mengerti. Mengkonversi, bagaimana kekurangan yang dimilikinya diubah menjadi kelebihan. Setidaknya bagi diri sendiri.

Valentine, sebuah hari di Februari yang katanya penuh kasih sayang, penuh cinta. Namun katanya lagi, cinta tak perlu dirayakan hanya di sebuah hari. Aku ingin mengenang cinta hari ini, bukan hari di Februari. Belajar cinta dari seorang anak.

Berbicara tentang cinta, orang dewasa tak akan pernah bisa mendeskripsikannya karena mereka terlalu takut dan egois.

‘Cinta adalah memberi dan menerima, blablabla…,’ itulah kata mereka. Sangat terlihat mereka terlalu berhati-hati ketika berbicara tentang cinta, dan kalian tahu apa yang didapat? Ketika kamu terlalu berhati-hati, kamu hanya menghasilkan yang “bukan diri sendiri”.

Anak-anak adalah manusia yang belum sempurna, dan memang sebagai manusia tidak akan menjadi sempurna. Namun justru karena ketidaksempurnaan itu mereka berani bertanya, mencoba, bicara tanpa takut salah, kotor, ataupun sakit. Memang terkesan ceroboh, tapi lebih banyak pelajaran yang bisa diambil dan “efek jera”-nya memang lebih terasa.

Berbeda dengan orang dewasa, anak-anak tak ahli dalam hal menyerah. Mereka terlalu penasaran, terlalu ingin tahu. Anak-anak pasti melakukan apapun untuk tahu, tak peduli itu begitu berisiko buat mereka, tak peduli itu akan sangat menyakitkan dan mengecewakan, yang penting mereka jadi tahu.

Biasanya anak-anak yang belajar dari orang dewasa, tapi untuk kali ini aku rasa orang dewasalah yang mesti belajar dari anak-anak. Deskripsi orang dewasa tentang cinta sudah tak murni, karena sudah bercampur dengan refleksi ego sendiri. Lain halnya dengan anak-anak, mereka mendeskripsikan tentang cinta tanpa ada penambahan-penambahan maksud dari egonya masing-masing. Mendeskripsikan cinta dengan tulus.

Aku pernah mendengar beberapa anak berceloteh tentang cinta, aku pikirkan, aku renungkan, bahkan aku bayangkan menjadi seorang anak berbicara.

“Cinta adalah ketika aku mengenakan parfum kakakku ketika pergi sekolah, dia pun mengenakan parfum kakaknya, sepertinya, aku mencium wanginya, dia mencium wangiku. Cinta adalah ketika seseorang yang aku sukai menyukai baju yang aku kenakan, dan akupun mengenakannya setiap hari. Cinta adalah ketika aku rela memberikan beberapa kentang goreng dari bekalku untuknya tanpa berharap dia memberikan sedikit telur dadarnya untukku. Cinta adalah ketika aku menjahilinya bahkan sampai menangis hanya untuk mendapatkan sedikit perhatiannya. Cinta adalah yang membuat aku tersenyum walau aku sedang lelah setelah pelajaran olahraga,” ucapnya sepulang sekolah seraya mengelap keringat di dahinya.

“Cinta adalah ketika aku sedang ragu untuk tampil dalam lomba pidato, dia memberikan lambaian tangan dan senyuman untuk menyemangatiku. Cinta adalah ketika aku berharap dia yang menenangkanku ketika aku bertengkar dengan temanku. Cinta adalah ketika bulu mataku naik turun melihatnya, dan aku merasakan serpihan bintang keluar dari mataku. Cinta adalah ketika aku celingak-celinguk saat dia gak masuk sekolah,” tuturnya sebelum tidur sambil memandangi langit-langit kamarnya.

“Cinta adalah ketika seseorang menyebut namaku dengan cara yang beda, sampai aku sadar bahwa namaku aman di bibirnya,” ujarnya padahal baru saja dia dimarahi ibunya karena tak mau makan. “Lagi gak nafsu,” bantahnya.

“Cinta adalah ketika ibu mencium keningku dan menaikkan selimut sampai ke dagu untuk mengantar aku ke alam mimpi. Cinta adalah ketika ayah menggendongku ke kamar tidur karena aku tertidur saat menonton TV. Cinta adalah ketika ibu melihat ayah yang lusuh dan bau sepulang kerja, tapi tetap menganggapnya pria paling tampan di dunia. Cinta adalah ketika ibu membuatkan kopi untuk ayah, dan menyicipnya hanya untuk memastikan rasanya sedap sebelum disajikan untuk ayah,” gumamnya sambil setengah sadar karena kantuk yang tak tertahankan.

“Cinta adalah walaupun ketika lelah bercumbu, tetap ingin bersama, dan membicarakan beberapa hal,” yang ini kata ibu dari seorang anak.

“Cinta adalah ketika ibu menunggu ayah pulang kerja sampai tertidur di sofa. Cinta adalah ketika ayah mencium kening ibu yang tertidur di sofa, dan menyelimutinya. Cinta adalah nenek yang mengucapkan ‘aku sayang kamu’ setiap hari kepada kakek, karena nenek tahu kakek itu pelupa. Cinta adalah ketika nenek sudah tidak bisa lagi membungkuk untuk mengecat kuku kakinya, kakek melakukannya untuk nenek, sampai kakek gak bisa lagi melakukannya. Cinta adalah ketika nenek menyimpan foto kakek walau kakek telah tiada. Cinta adalah ketika nenek tetap mendoakan kakek walau kakek gak akan ada lagi,” ocehnya sepulang berlibur di rumah nenek.

“Cinta adalah ketika nenek meninggal dengan tenang karena nenek yakin akan bertemu kakek di surga,” kata seorang anak tentang cinta.