Archive

Tag Archives: Kembali

Via Tumblr

Via Tumblr

Alunkan lagu ini sebelum membaca:

 

Aku bersyukur dilahirkan menjadi pembangkang.

Pada sebagian besar waktu dalam hidup, aku sering tidak bisa menerima begitu saja.

Aku sering tak percaya apa yang dikatakan orang.

Bagiku, jawaban dari orang lain hanya menambah tanda tanya.

 

Aku lebih percaya kepada hidup.

Tuhan bersama semesta-Nya lebih jujur daripada jujur.

Ia memberikan pertanda kepada setiap makhluk-Nya.

Kita, makhluk yang tak pandai membaca.

 

Ada seorang bijak pernah berkata bahwa kadang kita tak bisa bersama dengan yang dicinta.

Aku berkali-kali bertemu dengan orang yang harus merelakan cintanya dan menerima cukup yang ada.

Merelakan yang telah pergi sedang batin dan raga menjerit berusaha meraih hadirnya.

Kondisi yang beberapa orang coba jalani selamanya dalam hidupnya.

 

Tapi maaf, aku tidak bisa.

Aku tidak bisa untuk tidak menghidupi mimpiku.

Aku tidak bisa untuk merelakan seseorang yang tak tergantikan.

Aku tidak sanggup bila itu bukan kamu.

 

Aku bersyukur dilahirkan menjadi pembangkang.

Karena aku tak ingin berakhir seperti mereka.

Aku tidak akan menuruti perkataan “cinta tak harus memiliki”.

Aku mau memiliki cintaku, itulah mengapa aku memperjuangkan kamu.

 

Aku pernah bermimpi mewujudkan mimpi bersama kamu.

Sebuah mimpi yang tercipta dari alam bawah sadar yang paling dalam.

Yang bahkan aku sendiri tak tahu mengapa aku memimpikannya.

Sampai aku sadar, bahwa mimpi itu harus kuhidupi.

 

Mimpi yang pernah aku rusak sendiri.

Tetapi seperti yang selalu hidup ajarkan kepada aku, aku harus memperbaiki semuanya sendiri.

Itulah mengapa, aku memutuskan untuk tidak menyerah atas kamu.

Aku memilih untuk tidak merelakan kamu.

 

Jika aku ikut percaya seperti orang lain bahwa cinta tak harus memiliki,

Mungkin kini kita tak bersama lagi.

Bersyukur aku kembali padamu,

Sehingga kini aku bisa mewujudkan separuh mimpiku.

 

Terima kasih telah menjadi rumah melalui tatapan lembut itu.

Terima kasih telah menjadi selimut melalui dekap hangat itu.

Terima kasih telah menjadi separuh mimpiku.

Terima kasih telah menjadi sekarangku.

 

Sekarang, genggam tanganku.

Tidak akan pernah aku lepaskanmu.

Temani aku mewujudkan separuh lagi mimpiku.

Menghabiskan sisa hidupku, bersamamu.

IMG_6896 copy

 

Semuanya baik-baik saja, M.

Karena aku dan kamu, telah kembali menjadi kita.

 


 

Pertama, tekan play lagu ini sebelum kau membacanya, dan mulailah membaca saat liriknya mulai dinyanyikan.

waiting

Jika ada penghargaan untuk kegiatan paling menyiksa di dunia ini, maka pemenangnya adalah menunggu. Ya, menunggu akan menjadi jawara berturut-turut selama berwindu-windu.

Ini adalah surat-surat dalam paragraf, dari mereka yang sedang menunggu.

Menunggu seseorang untuk sadar. Tidak peduli berapa kali pun aku muncul di hadapanmu, aku berakhir hanya menjadi bayangan. Setiap denyut detik yang aku habiskan hanya untuk menerka apakah sebenarnya kamu menyadariku atau tidak. Bahagiaku terlalu mudah, hanya dengan tak sengaja bertukar tatap. Namun sedihku terlampau lasuh, cukup karena tak bertemu denganmu di waktu dan tempat biasanya kauhadir. Aku tak sedang menunggumu untuk sadar, kau sudah sadar. Aku pun sadar, nahasnya kau dengan sadar tak menyadariku.

Menunggu jawaban. Ada alasan mengapa sesosok hantu bisa penasaran, ada sesuatu yang tertinggal. Tanda tanya yang besar dan berjumlah jutaan menggantung di pikiran. Semuanya menanti jawaban. Jawaban yang bahkan waktu tak bisa menjawabnya jika bukan dengan bantuanmu. Hanya kamu, yang bisa memberikan jawaban. Namun meski kamu bisa, sayangnya kamu tak mau.

Menunggu kamu mengerti. Kita selalu berujung pada mencari siapa yang salah. Lalu semua berakhir dengan aku yang mengalah. Rasa ini hanya aku yang mengerti. Yang kamu yakini, kamulah yang benar sendiri. Mengerti bukanlah pekerjaan yang mudah. Akan tetapi setidaknya, aku berusaha.

Menunggu yang tak pasti. Aku berjalan menujumu, kamu berlari menujunya. Aku menunggu kau sendiri kembali, yang entah harus berapa tahun cahaya. Namun ketika waktunya datang, secepat kilatan cahaya pula kau kembali sudah ada yang punya. Lalu aku menunggu lagi. Dan lagi. Satu pertanyaan yang paling aku kesalkan, “Mengapa kamu terus bertahan bersama dia yang membuatmu tidak bahagia? Mengapa tidak denganku?” Lalu aku tersadar dengan jawaban yang terhembus dari angin di malam ini, “… Karena kau cuma menunggu.”

Menunggu kembali. Semua yang pergi tak bisa dengan mudah begitu saja kembali. Terutama jika yang pergi adalah karena kesalahan sendiri. Tak ada objek yang bisa disalahkan selain diri. Memutar waktu pun mustahil karena hidup bukanlah film fiksi. Satu hal yang aku ketahui, sedetik setelah kamu pergi aku hidup dalam bayang-bayang depresi.

photography-quote-text-wait-Favim.com-433143

Menunggu cinta sejati. Sebagian orang, terlalu tak sabaran untuk bertemu orang yang tepat. Padahal, sesuatu yang indah tidak pernah datang dengan mudah. Cinta sejati butuh patah hati. Orang itu tak akan dikatakan orang yang tepat jika tak muncul di waktu yang tepat. Mungkin, bukan sekarang. Setiap kali aku ingin berteriak dan bertanya “Tapi kapan?”, aku harus menahannya, lalu menghela napas panjang, tersenyum, dan fokuskan memperbaiki kualitas diri. Orang yang tepat hanya akan datang ke kehidupan orang yang tepat pula baginya. Tepatkah kamu bagi dia yang tepat?

Gif: Tumblr (dreaming-when-lights-are-gone)

Gif: Tumblr (dreaming-when-lights-are-gone)

Ini tentang cerita cinta yang biasa saja. Tentang seorang pria yang berjalan di sebuah trotoar basah. Air hujan kala itu menyamarkan genang di matanya.

Tidak terjatuh. Air itu menggantung di pelupuk. Seperti rasa sesal yang tertumpuk. Bintik air mulai membasahi kemeja birunya. Ujung dasinya ia gulung kemudian dimasukkannya ke kantung kemeja, seperti enggan membuka dasi itu sama sekali. Tak ingin kebasahan, tapi melindunginya pun setengah hati.

Ada yang istimewa dengan dasi hitam itu.

Seolah tak takut pada rintik hujan, pria itu sama sekali tak mempercepat langkah kakinya. Tak ada kenaikan volume suara dari pantofel yang beradu dengan trotoar. Sesekali ia menengok ke kiri. Toko dan kedai satu persatu ia lewati.

Kali ini dia meluruskan tangannya ke depan, hanya untuk menyingsingkan lengan kemejanya, lalu membengkokkan sikunya hingga pergelangan tangan mendekati dada. Jarum jam di jam tangan hitamnya menunjukkan pukul 5.47 sore.

Sudah dua blok pria itu berjalan. Bahunya sudah membentur bahu orang lain tiga kali, hampir bertabrakan melawan lalu-lalangnya orang.

Pria itu memperlambat langkahnya, menengadah ke langit. Namun kini tak ada lagi titik air menjatuhi wajahnya. Hujan sudah reda. Ia bersandar di dinding sebuah toko roti. Seperti banyak yang dipikirkan, dahinya mengerut. Bola matanya menatap ke arah sudut kiri kelopaknya.

Tangannya mengepal. Ia memukul tembok. Kesal. Sekaligus terkejut. Ada sesosok pria terduduk satu setengah meter di kiri pria itu. Seorang pria lainnya. Sesosok pria tak berumah.

Gelandangan itu memegang sepotong kardus bertuliskan “uang, atau sebuah senyuman”.

Foto: Tumblr (thatfuckedupglory)

Foto: Tumblr (thatfuckedupglory)

Mata sang pria memincing. Namun kemudian ia tersenyum. Berjalan perlahan mendekati si gelandangan, merogoh kantung celana bahannya, kemudian membungkuk. Diberikannya beberapa keping koin kembalian membeli kopi tadi sepulangnya bekerja. Pria itu tersenyum sekali lagi.

Gelandangan itu bertanya, “Hendak ke mana, Nak?”

“Entahlah. Aku pun tak tahu.”

“Mengapa berjalan jika tak tahu tujuan?”

“Aku ingin bertemu seseorang.”

Gelandangan itu menatap wajah sang pria lebih dalam dari sebelumnya, sebelum kemudian mengangguk perlahan mengusap janggut putihnya yang lebat. “Mengapa kamu memberikan semuanya?”

“Aku hanya memberikanmu koin,” jawab sang pria sedikit terheran, “bahkan ini masih ada sisa koin di sakuku.”

“Bukan. Aku hanya meminta uang, atau sebuah senyuman.”

“Ah, iya. Kalau bisa memberi semua, mengapa harus salah satu?”

Gelandangan itu tersenyum. “Kejarlah, Nak. Jangan setengah-setengah.”

Sang pria terdiam. Matanya terbuka. Ada degupan kencang di dadanya seraya ia berdiri kembali. Seketika ia melanjutkan langkahnya. Mempercepatnya. Bukan. Berlari!

Bagian bawah kemejanya mulai mengering, hanya tinggal bagian bahunya saja yang basah. Pria itu berhenti di satu persimpangan. Tepat di depan sebuah kios majalah. Sang pria menatap ke arah tiang lampu lalu lintas. Bibirnya terbuka membaca perlahan tulisan dari spidol merah di tiang itu.

Jio.

Ia berbalik dan menoleh ke arah kios majalah. Sontak pikiran pria itu terlempar jauh ke belakang. Tergambar sosok perempuan berambut panjang, tak terlalu lurus, sedikit ikal. Hidungnya tak mancung, malah cenderung besar. Pipinya pun mengingatkan pria itu tentang bakpao yang sering dijadikannya bahan ejekan untuk sang perempuan. Pria itu memanggilnya Jio.

Pria itu ingat betul perempuan yang ada di bayangannya sekarang sering mengeluhkan dirinya gendut. Perempuan yang sering merasa gendut itu telah membuat sang pria kurus karena sering memikirkannya.

24 menit sudah sang pria berdiri di persimpangan jalan itu. Selama itu, ia menancapkan tatapan ke kios majalah. Menunggu. Pria itu sesekali melihat jam tangannya. Kali ini jam tangannya menunjukkan pukul 6.57 malam.

“Harusnya sudah datang,” gumamnya.

Hingga Jio akhirnya tiba di kios majalah. Berbicara kepada penjaganya, menyerahkan sejumlah uang, dan mengambil majalah bergambar rumah di cover-nya.

Degup di dada sang pria semakin kencang. Ada lagi informasi kecil yang membangkitkan memori. Jio suka hal berbau interior. Pria itu mendadak ingat pernah membelikan Jio kursi unik berbentuk segitiga berwarna hijau sebagai hadiah ulang tahunnya.

Dengan keberanian terbesar yang selama ini ia kumpulkan, pria itu melangkah menghampiri Jio. Berhenti dan berdiri tetap di hadapannya. Jio terkejut, kemudian melihat dari kaki hingga kepala pria itu.

Jio, aku cuma ingin meminta maaf.”

“Nggak ada lagi …”

Belum selesai Jio bicara, pria itu menyambarnya. “Seumur hidupku aku nggak bisa hidup seperti ini. Hidup yang tanpa kamu di dalamnya.”

Jio terhenyak. Pipinya basah. “Aku yang harusnya minta maaf.”

Jio melangkah ke arah kanan pria itu. Cepat.

Belum sempat pria itu mengejar, Jio sudah disambut seorang pria dengan raut wajah agak kebingungan. Bahasa bibirnya menunjukkan, “Kamu kenapa?” bertanya kepada Jio, kemudian melayangkan sebuah pelukan di pundak.

Pria itu bergeming. Matanya menatap nanar. Bertambah lagi perbendaharaan sekuen pahit di hatinya. Yang bisa ia lakukan hanyalah merogoh sisa koin di kantung celananya, kemudian memandanginya. “Mengapa waktu itu tak kuberikan sepenuhnya?”

Pria itu menyesal karena tak selalu ada. Ia menyesal karena tak memberikan semua yang dipunya. Ia longgarkan simpul dasi hitam di kerah kemejanya dengan tangan kiri. Menggoyang-goyangkannya sedikit, kemudian melepasnya. Tak membuangnya, tapi menggenggamnya. Seperti hatinya masih ingin menggenggam, tapi harus melepas.

Kini, dahinya hanya bisa mengerut, menahan air mata untuk tak jatuh. Hanya tak ingin kelihatan cengeng.

Namun ada yang tak biasa dari alis tebalnya yang mengernyit. Sebuah petir menghunjam denyut jantungnya berupa rasa sakit. Sakit luar biasa, yang semuanya bermuara pada satu frasa. Rasa sesal.

Ini tentang cerita cinta yang biasa saja. Tentang seorang pria yang mencinta dengan biasa. Sebiasa ia bernapas. Saking terbiasa, hingga akhirnya sang pria tak bisa hidup tanpanya.