Archive

Tag Archives: Sendiri

Foto: spesial

Sudah berapa tetes air mata yang keluar karenanya, dan aku yang mengusapnya?

Sudah berapa senyum yang hilang karenanya, dan aku yang memunculkannya?

Kamu tak pernah benar-benar sadar, atau pura-pura tak sadar apa yang aku lakukan selalu saja tentang kamu. Semoga bukan karena kamu tak mau sadar.

Melakukan apa pun untukmu selalu membuatku resah. Tidak, aku tak memikirkan balasan yang mungkin tak akan aku terima, atau senyum yang sedari awal bukan untukku. Aku hanya gelisah apakah kamu bertahan karena adanya cinta, atau terpaksa. Sampai akhirnya aku menyadari satu sosok dalam cermin. Aku yang bertahan, untukmu.

Entah. Aku tak tahu benar ini tentang cinta. Namun yang aku tahu, cinta memang berkorban sampai sebegininya. Pengorbanannya tak pernah terbatas. Sayangnya kadang tak pernah berbalas.

Akan tetapi apakah cinta yang agam harus bertahan sampai lebam?

Pundakku tak punya kata lelah menampung segala resah dan air matamu untuknya. Ya, tak pernah untukku. Kamu menangis kepadaku, tapi tangisanmu bukan untukku. Setelah semua yang aku lakukan, seketika kamu tersenyum kepadaku, tetapi kemudian menyimpan sebagian besarnya untuk dia.

Jangan salahkan aku terus mendoakanmu bersedih, karena hanya saat itu kamu datang, duduk di sampingku, merebahkan kepala di pundakku.

Foto: Racikan Kata

Aku benci mengucap “selamat jalan”. Seperti melemparkan begitu saja kenangan demi kenangan.

Melambaikan tangan padamu tak pernah terasa madu. Layaknya menghunuskan pedang rindu, kemudian malah dihunjam detik sendu.

Urusan merelakan selalu pelik. Seperti menarik keluar hati, kemudian mengirisnya dengan sebilah belati.

Perpisahan bukan hanya perihal membukukan mesin waktu. Namun malah mengaktifkan bom waktu. Hingga semua meledak dalam ribang yang agung. Tak pernah aku rasakan damba yang sebegininya. Selain sejak ditinggal kamu, sesaat setelah lengkung senyummu lenyap ditelan cahaya berkecepatan tinggi. Bergerak menjauh. Semua hanya mendekatkan aku, pada kesepian.

Selalu memejamkan mata, masih mencoba menyeman sunyi, yang hadir malah bayangmu. Lagi. Aku hembuskan percik kenangan di membran kepala, kemudian menyundut api kesendirian. Lalu aku terbakar di dalamnya. Bersama kamu. Kenangan kita.

Hingga kini. Aku masih melambaikan tangan ini. Padamu yang telah lama pergi.