Archive

Tag Archives: Senyum

Foto: silentivy

Kamu tidak tahu apa-apa tentang degup tak berirama ini. Degup jantung yang seraya seperti akan meledak ketika kamu memanggil namaku pertama kalinya dengan benar. Ya, pertama kalinya kamu memanggil namaku tanpa salah eja, posisi hurufnya tersusun dengan rapi. Tak seperti posisi jantung ini yang sepertinya sudah berada di luar.

Aku, dengan lebih sigap dari seekor ibu tupai yang anaknya sedang diancam anjing, melompat mendekatimu, menanyakan ada apa. Kekuatan langit apa yang bisa membuatmu melakukan hal semacam tadi, memanggilku, dengan benar pula. Aku selalu penasaran dengan segala hal tentang kamu -meski aku sudah tahu dengan mengandalkan segala kemampuan ‘detektifku’-, akan tetapi aku tetap saja kehausan kabar tentang kamu. Kamu mengajak aku ke suatu tempat, yang katamu menjadi tempat favorit ketika ingin mengobrol hal serius dan sedikit berbau rahasia.

Tentu dalam sekejap aku merasa lebih spesial dari sepotong martabak telur dengan komposisi dua telur. Aku bertanya-tanya apa yang sebenarnya akan kamu beritahukan. Jantungku sepertinya sudah tidak berada di tempat, tetapi aku masih bisa merasakan detaknya yang kencang. Tebakan demi tebakan melintasi pikiranku. Sekuen demi sekuen yang mungkin terjadi lewat begitu saja tanpa permisi.

Dan sampai akhirnya kamu dan aku duduk berdua, saling tatap, seperti yang selama ini aku impikan, aku bayangkan namun tak terwujudkan. Selama ini memang seperti ini keadaan yang aku rencanakan untuk mengungkap cinta kepadamu. Lengkap dengan lampu kekuningan yang agak redup ini. Namun aku masih penasaran apa yang ingin kamu katakan, apakah seperti apa yang selama ini aku rasakan.

Aku menunggu beberapa patah kata yang akan terucap dari mulut mungilmu itu, tentu masih sambil menahan diri untuk tidak pingsan. Kamu terlihat begitu gugup, kemudian menarik napas panjang. Dan akhirnya kamu angkat bicara.

“Aku suka temanmu. Bagaimana aku supaya bisa dekat dengannya? Bantu aku.”

Aku tersenyum getir.

Selanjutnya, aku habiskan hari itu dengan berjalan sendirian.

Tak ada malam yang lebih menyesakkan dari malam-malam yang aku lalui setelah hari itu.

Advertisements

Foto: Racikan Kata

Pernahkah kamu mengenal seseorang yang punya pengaruh besar terhadap dirimu, bahkan terlalu besar? Aku, pernah.

Seseorang seperti itu adalah seseorang yang istimewa. Seseorang yang istimewa bisa menjungkirbalikkan mood-mu dalam sekejap. Dia bisa membuatmu yang sedang dalam suasana hati sumringah menjadi diam dan menekuk muka dalam satu kedipan saja. Sederhananya, ketika dia tersenyum aku semakin tersenyum. Namun ketika dia cemberut, apapun suasana hatiku, spontan wajahku ini menjadi kusut.

Ah, apakah ini sebuah ketergantungan? Kamu selalu membuatku kawatir. Kawatir jika kamu pergi, senyumku ini akan bergantung pada senyum siapa lagi?

Sadarkah kamu pengaruhmu begitu besar buatku? Ketika aku kecewa, sedih, bahkan marah, satu simpul senyummu bisa mengembangkan senyumku yang terkubur dalam tanah hati yang gelap.

Sayang, mudah sekali bagimu melengkungkan garis bibirku ke atas atau ke bawah. Kamu tinggal pilih. Jadi aku mohon, tetaplah tersenyum, untukku, bersamaku.

Walaupun hanya sebuah titik dua dan sebuah kurung tutup πŸ™‚

Foto: Kamakura

Kepada malaikat yang turun pagi ini, jalanan licin setelah hujan semalam. Aku menaruh sepatu boots dan jas hujan di depan kamar untuk kau pakai.

Malaikat pagi, meskipun dingin di luar, jangan lupa tersenyum. Tak apa senyum sambil menggigil.

Dan ketika kau menggigil, tolong jangan luruhkan senyum. Senyummu menghangatkan.

Kamu, malaikatku, tersenyumlah.